default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

80 Persen Perempuan di Jember Berinisiatif Ceraikan Suami?

80 Persen Perempuan di Jember Berinisiatif Ceraikan Suami?
Peristiwa Daerah
Ilustrasi Google.
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JEMBER - Fenomena unik terjadi dalam kasus perceraian yang diproses Pengadilan Agama Kabupaten Jember.

Perempuan mendominasi sebagai pihak yang mengajukan perceraian sepanjang tahun 2019.

"Jika dipresentase, ada 80 persen yang mengajukan perceraian dari istri. Yakni cerai gugat," ungkap Humas Pengadilan Agama Jember Anwar, Kamis (2/1/2020).

Tercatat sebanyak 6.697 kasus perceraian dalam di kabupaten yang terkenal dengan pertanian tembakau ini dalam kurun 2019 lalu.

Angka perceraian tidak banyak berubah dibandingkan tahun 2018, yang telah terjadi 6.755 kasus perceraian.

Perceraian dengan selisih 58 kasus dalam rentang dua tahun terakhir tergolong tren yang relatif stagnan.

Menurut Anwar, mengenai alasan pemicu gugatan perceraian oleh perempuan, rata-rata  merasa kebutuhan hidupnya belum tercukupi.

Faktor ekonomi masih menjadi faktor dominan yang dijadikan alasan para penggugat mengakhiri biduk rumah tangganya.

Anwar menganggap, persoalan pemenuhan kebutuhan hidup seperti masalah klasik, karena juga mendominasi kasus perceraian dari tahun-tahun sebelumnya.

"Awalnya soal perekonomian, yang kemudian menyebabkan perselisihan, dan berlanjut pada percekcokan. Sehingga muncul perceraian," ulasnya.

Dalam setiap sidang, Anwar menambahkan, pihak Pengadilan Agama selalu berupaya mencegah agar tidak terjadi perceraian.

Pencegahan dilalui dengan mediasi dengan pihak suami dan istri.

"Bahwa harus ada komunikasi yang baik. Jangan kemudian mengedepankan emosi dan egoisme saat menyelesaikan persoalan," tuturnya.

Fenomena banyaknya istri yang nekat menggugat cerai suaminya, ditanggapi oleh aktivis Rumah Teduh Jember Agustina Dewi.

Ia beranggapan, hal itu disebutnya sebagai keberanian perempuan menentukan jalan hidupnya.

"Apalagi cara pandang masyarakat sudah berubah, tidak lagi menganggap tabu istri yang menggugat cerai," katanya.

Masalah ekonomi menurutnya bukan sebatas kebutuhan hidup. Kerapkali, dalam banyak kasus perceraian dipicu kekerasan yang mengorbankan perempuan 

Dewi mencontohkan, jika pendapatan suami belum mencukupi, pada umumnya istri justru membantu memperoleh mata pencaharian.

Namun, peran istri yang demikian itu tidak dianggap sebagai hal yang penting dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan, acapkali diremehkan.

"Kekerasan rumah tangga, bukan hanya fisik. Kekerasan juga menyangkut verbal rasa hormat. Merasa bisa mandiri, perempuan yang alami kekerasan berani menggugat cerai," jelasnya.

Bagi dia, perceraian tidak semestinya terjadi, kecuali dipicu oleh timbulnya tindak kekerasan.


Kontributor : Sutrisno
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar