SUARA JATIM POST
Banner

Begini Alasannya Banyuwangi Belum Jadi Daerah Aman Bagi Anak

BANYUWANGI – Memperingati hari anak universal pada 20 November 2020 ini, sekelompok pemuda mengajak belasan anak bermain permainan tradisional. Kelompok Pemuda Peduli Masyarakat (KP2M) yang menggandeng Yayasan ALIT dan Desa Kaliploso mengajak anak bermain tanpa menggantungkan ke permainan gadget.

 

Permainan ini selain menghibur anak – anak di tengah pandemi Covid-19, juga menjadi acuan mengasah kekompakan dan ketrampilan anak – anak. Setelah bermain anak – anak ini menyalakan lilin – lilin sebagai bentuk cahaya terang.

 

Ketua KP2M Faruq mengatakan menjadi refleksi bersama guna memastikan bagaimana kondisi perlindungan anak selama masa pandemi.

 

"Bermain bersama anak-anak untuk sedikit menghibur supaya anak tidak jenuh. Meskipun saat ini di masa pandemi covid-19 dimana ruang belajar dan bermain mereka dibatasi oleh yg namanya prokes mencegah penyebaran virus covid19," katanya pada Jumat (20/11/2020).

 

Faruq menyebut di tengah peringatan hari anak universal pihaknya merasa prihatin lantaran masih banyaknya fenomena kasus tindakan pidana dengan korban anak – anak. Kasus mulai pencabulan, pelecehan seksual di Banyuwangi disebutnya makin meningkat.

 

"Predator anak-anak tidak memilih waktu, termasuk di masa pandemi saat ini, kalau kita mengamati di media online hampir setiap pekan bersliweran informasi terjadinya kasus pencabulan anak usia dibawah umur. Tentu itu menjadi catatan penting yang harus diperhatikan bersama," imbuhnya.

 

Dirinya pun menegaskan Banyuwangi belum menjadi daerah yang aman bagi anak – anak. Hal ini terbukti dengan banyaknya kasus – kasus tindakan pidana dengan korban anak – anak. Dari catatan kepolisian Banyuwangi dari 85 kasus kekerasan dengan korban perempuan dan anak, setidaknya ada 9 kasus pencabulan dengan korban anak di bawah umur, 10 kasus penganiayaan dan 8 kasus penelantaran terhadap anak.

 

"Mohon maaf, kami menyimpulkan bahwa Banyuwangi saat ini masih belum layak menyandang sebutan kota yang ramah anak," ungkapnya.

 

Pihaknya berpesan kepada pemerintah dan stakeholder yg berada didalamnya, serta komponen masyarakat agar mempelototi hal tersebut. Guna saling bahu membahu mengedukasi, melakukan sosialisasi kepada orangtua maupun anak secara terus menerus disetiap kegiatan masyarakat.

 

"Secara pendidikan seks di usia dini itu merupakan bukan hal yang tabu ketika disampaikan dengan cara yang benar. Bila perlu materi perlindungan diri dari eksploitasi seksual pada anak kiranya dapat menjadi bagian pada kurikulum sekolah dimana akan pentingnya melindungi diri dan terlindungi dari bahaya eksploitasi seksual," tukasnya.

Apa Reaksi Anda?