default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Cemburu dan Kuasai Harta Picu Anak-Istri Bunuh Surono

Cemburu dan Kuasai Harta Picu Anak-Istri Bunuh Surono
Peristiwa Nasional
Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal menunjukkan barang bukti pembunuhan Surono
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JEMBER - Busani (45) dan Bahar Mario (27) bersekongkol menghabisi nyawa Surono karena dua faktor, yakni persoalan asmara dan harta.

Hal itu diutarakan Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal dalam keterangan resminya saat mengumumkan Busani dan Bahar sebagai tersangka pada Kamis (7/11/2019).

"Para tersangka ini melakukan pembunuhan karena cemburu dan juga ingin menguasai harta kekayaan korban," tegasnya.

Bahar sosok yang temperamental, sudah lama memendam amarah kepada korban. Lantaran beragam permintaan Bahar tidak dipenuhi. 

Bahar juga cemburu dengan korban yang mempunyai hubungan khusus dengan seorang wanita. Wanita tersebut ternyata juga disukai oleh Bahar.

Sedangkan, Busani cemburu mendengar korban yang menjalin hubungan dengan wanita lain.

Meski cemburu, lanjut Alfian ternyata diam-diam Busani main serong dengan pria idaman lain.

Disamping persoalan asmara, kedua tersangka membunuh korban dengan tujuan bisa leluasa menikmati kekayaan hasil kebun kopi.

"Sekali panen kopi hasilnya yang didapat korban bisa mencapai Rp100 juta. Tentunya para tersangka tergoda," papar Alfian.

Keduanya membuat rencana pembunuhan. Akhirnya baru terlaksana pada Maret 2019.

Korban dibunuh secara keji oleh Bahar dengan menggunakan linggis besi seberat 10 kg. 

Berdasarkan hasil otopsi, rahang dan tulang pipi kiri korban pecah. Pendarahan hebat sampai penggumpalan darah di mata kirinya.

Kekejian tidak sampai disitu. Korban dikubur secara tidak wajar dengan memendamkan jasadnya dibawah lantai beton setebal 25 centimeter. Lantai itu kemudian dikeramik dan digunakan sebagai lantai musala.

Menurut Alfian, kasus ini terungkap lantaran Bahar hanya sempat menikmati setengah dari pembagian uang Rp6 juta bersama Busani.

"Uang itu diambil langsung dari tas korban seketika setelah membunuh korban," katanya.

Sedangkan uang hasil panen kopi Rp100 juta justru dinikmati Busani. 

Hal itulah yang membuat Bahar jengkel. Hingga pekan lalu, pria residivis yang merantau ke Pulau Bali ini pulang ke kampung halamannya dan mengumbar omongan bahwa korban dibunuh Busani bersama selingkuhannya berinisial J.

"Ternyata J tidak terlibat, dan tidak tahu menahu tentang pembunuhan meski sempat menikah siri dengan Busani dua pekan setelah kematian korban," urai Alfian.

Dari hasil penyelidikan, ternyata Bahar dan Busani yang menghabisi nyawa Surono. 

Ada 11 barang bukti yang disita oleh polisi sebagai petunjuk kuat mengungkap kasus tersebut.

Alfian menegaskan, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 340 KUHP, subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup.


Kontributor : Sutrisno
Editor : Sutrisno
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar