Masjid Cheng Hoo, Jejak Akulturasi Budaya yang Jadi Ikon Toleransi Surabaya

Masjid Cheng Hoo menjadi ikon toleransi di Surabaya dengan perpaduan budaya Islam, Tionghoa, dan Jawa yang tercermin dalam arsitektur dan ornamen bangunannya.

26 Mar 2026 - 09:20
Masjid Cheng Hoo, Jejak Akulturasi Budaya yang Jadi Ikon Toleransi Surabaya

SURABAYA, SJP - Surabaya kembali menghadirkan wajah toleransi melalui arsitektur. Salah satunya tampak jelas pada Masjid Cheng Hoo, rumah ibadah yang bukan hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga menjadi simbol pertemuan budaya yang harmonis.

Masjid ini dibangun pada tahun 2001 atas inisiatif Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) untuk mengenang peran Laksamana Cheng Hoo dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Keberadaannya menjadi representasi kedekatan komunitas muslim Tionghoa dengan masyarakat lokal di Surabaya.

Dari sisi arsitektur, Masjid Cheng Hoo tampil berbeda dibanding masjid pada umumnya. Bangunan ini mengusung gaya khas Tiongkok dengan atap menyerupai pagoda, berbentuk segi delapan dan bertingkat, tanpa kubah seperti lazimnya masjid di Indonesia. Desain ini sekaligus menjadi penanda kuat adanya akulturasi budaya yang menyatu dalam satu bangunan.

Unsur perpaduan budaya juga terlihat pada detail ornamen. Kaligrafi Arab berlafaz Allah dibentuk dalam pola segi delapan, menyatu dengan nuansa arsitektur Tiongkok. Sementara itu, delapan tiang penyangga utama mengadopsi konsep saka guru yang dikenal dalam budaya Jawa. Bahkan, panjang bangunan utama yang mencapai 11 meter disebut melambangkan ukuran Ka’bah.

Perpaduan tiga budaya ini tidak tampil saling mendominasi. Sebaliknya, setiap elemen hadir dalam komposisi yang seimbang, menciptakan identitas unik sekaligus memperkuat pesan kebersamaan. Masjid Cheng Hoo pun kerap dipandang sebagai simbol toleransi dan keharmonisan antarumat beragama di Indonesia.

Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Cheng Hoo kini juga menjadi destinasi wisata religi dan edukasi. Pengunjung tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga untuk melihat langsung bagaimana nilai-nilai budaya dapat berpadu tanpa kehilangan jati diri masing-masing.

Di tengah keberagaman Indonesia, Masjid Cheng Hoo berdiri layaknya jembatan—menghubungkan tradisi, keyakinan, dan sejarah dalam satu ruang yang damai. (**)

Sumber: linguistik.upnjatim.ac.id

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow