11 Tahun Mati Suri, Grebeg Suro dan Haul Kanjeng Jimat Kembali Digelar di Nganjuk

Kembalinya tradisi yang telah lama vakum ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Nganjuk.

10 Jul 2026 - 10:58
11 Tahun Mati Suri, Grebeg Suro dan Haul Kanjeng Jimat Kembali Digelar di Nganjuk
Ketua Panitia Grebeg Suro Mbh Kanjeng Jimat Gus Aris didampingi Bopo Jaranan Turonggo Wilis di alun-alun Brebek (Foto: Kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP–Suasana sakral nan meriah menyelimuti Bumi Rebeg, Kabupaten Nganjuk. Ribuan pasang mata menjadi saksi dihidupkannya kembali tradisi leluhur melalui perhelatan Grebeg Suro lan Haul Mbah Kanjeng Jimat yang sempat mati suri sejak tahun 2015 silam.

Acara akbar yang digelar pada Jumat (10/7/2026) ini ditujukan untuk ngalap berkah sekaligus mendongkrak kembali marwah wisata religi Makam Waliyullah Mbah Kanjeng Jimat. Rangkaian acara berlangsung spektakuler dengan menampilkan kesenian Reog Gembong Asmoro dan Jaranan Turonggo Wilis. Tidak hanya seni budaya, nuansa spiritual juga kental terasa dengan kehadiran Gus Zamrozi dari Ponpes Barengan Kaloran, yang akan memimpin gema Sholawat serta Istighosah pada Sabtu (11/7/2026).

Di balik megahnya acara ini, terdapat kisah kepedulian yang luar biasa dari sang inisiator, Gus Aris. Pria bertubuh tegap yang sehari-hari berprofesi sebagai lawyer di Nganjuk ini secara blak-blakan mengungkap bahwa pergelaran berskala besar tersebut murni didanai dari kantong pribadinya.

"Iki murni panggilan jiwa kanggo nguri-nguri budaya lan njaga amanah leluhur (Ini murni panggilan jiwa untuk melestarikan budaya dan menjaga amanah leluhur)," ungkap Gus Aris dengan penuh ketulusan saat ditemui Suarajatimpost.com di lokasi acara, Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa bantuan dari pihak luar sangat minim, sehingga ia rela merogoh kocek sendiri demi tegaknya budaya di tanah kelahiran.

"Alhamdulillah dengan acara dan agenda Reog ini, Jaranan ini, Sholawat, Istighosah, hanya dibantu 6 juta dari yayasan, itu pun hanya sementara dikasih 4 juta. Jadi murni biaya dari saya sendiri, tidak ada yang ngasih dan tidak ada yang nyumbang sama sekali," jelasnya.

Kepada awak media, Gus Aris juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas publikasi kegiatan ini. 

Ia menegaskan target utama dari acara ini adalah menghidupkan kembali sektor wisata religi setempat.

"Acara ini kami gelar dalam rangka Grebeg Suro dan Haul Mbah Kanjeng Jimat," singkat Gus Aris. 

"Karena Mbah Kanjeng Jimat itu juga termasuk waliyullah yang banyak dikunjungi wisata religi dan kita juga mau mengangkat, menyedot para peziarah-peziarah khususnya di makam Mbah Kanjeng Jimat," imbuhnya. 

Kembalinya tradisi yang telah lama vakum ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Nganjuk. 

Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, atau yang akrab disapa Kang Marhaen, hadir langsung ke lokasi bersama seluruh tim se-Anjuk Ladang sebagai wujud nyata dukungan pemerintah terhadap kelestarian budaya lokal. Kehadiran orang nomor satu di Nganjuk ini pun diapresiasi langsung oleh Gus Aris.

"Alhamdulillah dihadiri Bupati Nganjuk Kang Marhaen, hadir semua tim se-Anjuk Ladang. Terima kasih atas kepedulian dan apresiasi Kang Marhaen sebagai Bupati Nganjuk yang ikut memberikan support. Menurutnya, acara Grebeg Suro ini baru kali ini diadakan, dari tahun 2015 setelah itu sampai saat ini baru ada ini," tutur Gus Aris.

Gus Aris berharap momentum ini bisa memantik rasa tanggung jawab bersama (melok nduweni) terhadap kebudayaan daerah. Melalui perantara karomah Mbah Kanjeng Jimat, masyarakat Rebeg berharap Kabupaten Nganjuk senantiasa diberkahi.

"Harapan saya mudah-mudahan dengan rida Allah SWT lantaran Mbah Kanjeng Jimat, semuanya elemen baik birokrasi, masyarakat sipil, dan lain sebagainya, bisa gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Jadi bahasanya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Kabeh kudu podo iso melok (Semua harus sama-sama bisa ikut) hangrukebi, mulat sarira, hangrasa wani. Melok nduweni (Ikut memiliki) kabeh," pungkas Gus Aris.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Marhaen memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Gus Aris atas keikhlasan dan keberaniannya mendanai festival budaya ini secara mandiri demi kemaslahatan masyarakat luas.

"Ke depan, mari kita pertahaman sinergi ini. Sesuai falsafah Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, semua elemen baik pemerintah, tokoh agama, maupun warga sipil harus kompak, nyawiji, dan merasa memiliki (melok nduweni) kebudayaan kita sendiri," ucap Kang Marhaen. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow