"Nyawa Dibayar Nyawa", Tuntutan Istri Korban Pembunuhan Tragis di Nganjuk
Di tengah kepedihan yang mendalam, Supriatin (istri korban) akhirnya bersuara, meluapkan rasa kecewa, syok, sekaligus tuntutan keadilan atas peristiwa berdarah yang merenggut nyawa suaminya
NGANJUK, SJP - Suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga korban pembunuhan tragis yang menggemparkan warga di Dusun Nanggungan Desa Kaloran, Nganjuk. Di tengah kepedihan yang mendalam, Supriatin (istri korban) akhirnya bersuara, meluapkan rasa kecewa, syok, sekaligus tuntutan keadilan atas peristiwa berdarah yang merenggut nyawa suaminya.
Dalam sebuah wawancara emosional, Supriatin saat ditemui Suarajatimpost dirumah duka membeberkan lima poin krusial terkait hubungan keluarga dengan pelaku, motif asmara yang melatarbelakangi, hingga harapan besarnya pada hukum.
Dengan suara bergetar menahan tangis, Supriatin istri korban mengungkapkan bagaimana tulusnya keluarga mereka selama ini memperlakukan salah satu pelaku berinisial DM. Bagi mereka, DM bukan sekadar orang asing atau pekerja biasa.
"Kami sudah menganggap dia seperti bagian dari keluarga sendiri. Makan, tidur, kebutuhan sehari-hari, hingga perhatian layaknya anak sendiri sudah kami berikan. Kami merawat dan mempercayainya dengan sepenuh hati, tanpa pernah membeda-bedakan," ungkapnya dengan tatapan kosong, mengingat kebaikan suaminya yang kini dibalas dengan nyawa, Sabtu (18/7/2026).
Ketika ditanya mengenai tindakan keji para pelaku, Supriatin mengaku benar-benar terpukul dan tidak habis pikir. Baginya, kekejaman yang dilakukan tersangka berada di luar nalar manusia sehat.
"Sama sekali tidak pernah terlintas di benak kami kalau pelaku bakal sekejam itu. Tega sekali. Hati nuraninya sudah mati. Suami saya tidak layak diperlakukan sekeji itu oleh orang yang sudah kami baiki," tuturnya sembari menyeka air mata.
Perihal motif asmara yang santer dikabarkan menjadi pemantik pembunuhan ini, Supriatin membenarkan adanya penolakan dari pihak keluarga terhadap hubungan asmara salah satu pelaku. Penolakan tersebut, menurutnya, didasari oleh pertimbangan masa depan dan prinsip keluarga yang rasional.
"Kami tidak menyetujui hubungan asmara itu bukan karena membenci tanpa alasan. Ada hal-hal prinsipil dan latar belakang yang membuat kami, terutama almarhum suami, merasa hubungan itu tidak baik untuk diteruskan. Kami hanya ingin melindungi keluarga, tapi keputusan itu justru memicu petaka," jelasnya.
Sebelum tragedi berdarah itu terjadi, Supriatin mengaku tidak melihat adanya gelagat aneh atau tanda-tanda dendam yang kasat mata dari para pelaku. Keseharian berjalan seperti biasa, sehingga keluarga sama sekali tidak menaruh curiga.
"Secara langsung, kami tidak melihat ada tanda-tanda kalau mereka menyimpan sakit hati yang mendalam atau dendam kesumat. Mereka bersikap biasa saja di depan kami. Kami tidak tahu kalau di balik sikap diamnya, mereka sedang merencanakan sesuatu yang sangat biadab," tambahnya.
Dengan ketegasan yang tersisa, ia meminta aparat penegak hukum untuk bertindak adil dan memberikan sanksi hukum terberat bagi para pelaku. Kehilangan pilar utama keluarga secara tragis meninggalkan luka yang tidak akan pernah sembuh.
"Tuntutan saya hanya satu, keadilan. Saya meminta penegak hukum menjatuhkan hukuman yang setimpal, hukuman maksimal atas kejahatan berencana yang mereka lakukan. Nyawa dibayar nyawa. Mereka harus menerima akibat dari kekejaman yang telah menghancurkan hidup kami," pungkasnya penuh harap.
Kasus pembunuhan di Desa Kaloran ini kini tengah ditangani secara intensif oleh pihak kepolisian setempat, sementara masyarakat terus mengawal proses hukum agar keadilan bagi korban dan keluarga dapat segera ditegakkan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

