Pengelola dan Warga Dorong Sistem Satu Loket Wisata Pantai Ngliyep–Pasir Panjang Diberlakukan Lagi

Pemisahan loket tiket di kawasan wisata Ngliyep dan Pasir Panjang disebut berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan serta omset pelaku usaha lokal.

29 May 2026 - 20:15
Pengelola dan Warga Dorong Sistem Satu Loket Wisata Pantai Ngliyep–Pasir Panjang Diberlakukan Lagi
Suasana Pantai Pasir Panjang, Malang Selatan, yang tetap ramai dikunjungi wisatawan ditengah polemik tiketing beberapa waktu terakhir. (Foto : Hafid/SJP)

MALANG, SJP – Sejumlah pengelola wisata, pedagang, dan warga di kawasan Pantai Ngliyep serta Pantai Pasir Panjang berharap sistem satu loket tiket kembali diterapkan demi menjaga kenyamanan wisatawan dan kestabilan kunjungan di kawasan wisata Malang Selatan.

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Pantai Pasir Panjang, Arifin, mengatakan pihaknya siap duduk bersama dengan seluruh pihak terkait guna mencari solusi terbaik atas persoalan loket tiket yang saat ini menjadi perhatian masyarakat.

Menurutnya, sistem satu loket dinilai lebih memudahkan wisatawan saat memasuki kawasan pantai selatan dibanding pola terpisah seperti saat ini.

“Kami siap duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. Harapannya nanti bisa kembali satu loket seperti dulu supaya wisatawan juga lebih nyaman,” ujar Arifin.

Ia mengaku khawatir jika persoalan tersebut terus berkembang dan berdampak pada hubungan para pekerja wisata di lapangan. Padahal selama ini, menurutnya, hubungan karyawan Perumda Jasa Yasa dan pekerja wisata Pasir Panjang tetap berjalan harmonis.

“Kami khawatir polemik ini berdampak ke bawah. Padahal karyawan PD Jasa Yasa dan karyawan Pasir Panjang setiap hari ketemu, rukun dan baik-baik saja,” katanya.

Arifin menilai dampak pemisahan loket mulai dirasakan pelaku wisata maupun pedagang karena kunjungan wisatawan dinilai mengalami penurunan.

“Kami sangat menyayangkan setelah ada pemisahan loket ini, dampaknya omset wisata menurun. Tidak hanya Pasir Panjang, tetapi juga berpengaruh terhadap kunjungan wisata di sekitar kawasan,” tambahnya.

Meski demikian, ia memastikan kondisi masyarakat dan pekerja wisata di lapangan tetap kondusif. Menurutnya, seluruh pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keberlangsungan wisata serta perekonomian masyarakat sekitar.

Sementara itu, pengelola Pantai Ngliyep yang juga bernama Arifin mengatakan pihaknya hanya menjalankan arahan pimpinan terkait pengaturan sistem tiket wisata.

“Kami mengikuti perintah dari pusat,” singkatnya.

Ia menegaskan keputusan mengenai sistem loket menjadi kewenangan pimpinan Perumda Jasa Yasa.

“Saya di bawah mengikuti perintah dari atasan. Jika loket disatukan kembali ataupun dipisah, saya juga ikut arahan dari Direktur Jasa Yasa,” ujarnya.

Di sisi lain, Teguh, salah satu warga sekaligus pedagang di kawasan wisata, berharap persoalan tersebut segera menemukan titik terang agar tidak memengaruhi citra wisata Malang Selatan di mata pengunjung.

Menurutnya, masyarakat khawatir wisatawan menjadi enggan datang akibat kabar yang berkembang terkait persoalan loket tiket tersebut.

“Yang kami takutkan wisatawan jadi malas datang karena mendengar polemik ini. Padahal pantainya tetap indah dan masyarakat di sini juga tetap ramah kepada pengunjung,” katanya.

Pembina wisata Malang Selatan juga berharap DPRD Kabupaten Malang dapat memfasilitasi hearing atau pertemuan bersama agar seluruh pihak bisa duduk bersama mencari solusi yang adil dan tidak merugikan masyarakat kecil.

“Mudah-mudahan polemik ini cepat selesai karena masyarakat di bawah sampai karyawan sebenarnya rukun dan baik, saling mendukung. Kami berharap DPRD bisa memfasilitasi hearing agar semua pihak bisa duduk bersama,” ujarnya.

Terlepas dari persoalan yang terjadi, kawasan Pantai Ngliyep dan Pantai Pasir Panjang hingga kini masih menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan di Kabupaten Malang dengan panorama pantai selatan, pasir putih, dan suasana alam yang masih alami. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow