Pemulihan Trauma Anak Korban Pembunuhan di Gresik, Dinas KBPPPA Ajak Warga Proaktif
Nenek yang kini menjadi pengasuh anak tersebut mengungkap rasa trauma mendalam masih ada. Anak balita tersebut masih sering mencari keberadaan ibunya meski sudah lama telah tiada.
GRESIK, SJP — Nyaris dua tahun berlalu kasus perampokan yang disertai pembunuhan korban seorang ibu rumah tangga dan agen BRILink Wardatun Thoyyibah (28), menyisakan trauma mendalam bagi anak kandungnya anak usia dibawah lima tahun (balita) inisial N (4) warga Desa Ima'an, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.
Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Gresik Titik Ernawati, mengajak masyarakat dan lingkungan sekitar untuk berperan aktif dalam proses pemulihan anak.
Ia mengimbau, agar keluarga dan masyarakat agar tidak mengulang cerita tragedi yang justru bisa memicu trauma ulang, tidak memberikan stigma, menghindari ucapan yang membuat anak merasa berbeda atau dikasihani berlebihan.
"Memberikan dukungan yang wajar dan hangat. Sapa seperti biasa, beri ruang bermain, dan perlakukan anak sesuai usianya. Menjaga privasi, serta tidak menyebarkan foto, video, atau informasi pribadi anak di media sosial. Kemudian menciptakan lingkungan yang aman dan stabil," kata Titik, Sabtu (14/2/2026).
Titik mengatakan, rutinitas yang konsisten sangat membantu anak merasa kembali memiliki rasa aman. Pemulihan trauma pada anak membutuhkan waktu yang disertai dukungan emosional yang stabil, lingkungan yang penuh empati, serta pendampingan profesional menjadi kunci agar anak tetap bisa tumbuh dan berkembang secara sehat.
Menurut dia, pendampingan profesional sudah diberikan sejak kejadian perampokan yang disertai pembunuhan pada bulan Maret 2024 silam sampai sekarang.
Segala bentuk pengobatan pendampingan serta bantuan perlengkapan mainan, susu, dan lain sebagainya turut diberikan.
"Saat ini anak sedang dalam proses assessment dan pendampingan psikososial oleh tenaga profesional. Dan juga masih dalam pantauan kader TPK ( Kader tim Pendamping Keluarga)," jelasnya.
Lanjut dia, secara umum anak dalam kondisi aman dan sudah berada dalam pendampingan. "Namun secara psikologis, tentu ada dampak yang tidak ringan. Anak menunjukkan respons duka dan shock yang wajar pada situasi kehilangan yang sangat traumatis," paparnya.
Sementara itu, Tasniah, selaku nenek yang kini menjadi pengasuh anak tersebut mengungkap rasa trauma mendalam masih ada.
Anak balita tersebut masih sering mencari keberadaan ibunya meski sudah lama telah tiada.
Ia menyebut, saat kejadian kaki sang anak terluka diduga terkena sabetan pisau oleh pelaku.
"Setiap dia mencari mamanya saya selalu menangis, saya tidak tega sebagai neneknya," pungkas dia.
Diketahui sebelumnya, dua pelaku perampokan yang disertai pembunuhan ini sudah dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Negeri Gresik.
Otak pelaku kasus ini pun divonis 18 tahun penjara. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

