Jembatan Jabak Putus Diterjang Banjir, 700 Warga Ponorogo Andalkan Kereta Gantung Darurat

Kerusakan total jembatan penghubung Ponorogo–Trenggalek membuat warga Dusun Purworejo membangun kereta gantung swadaya senilai Rp10 juta demi akses pendidikan dan ekonomi.

16 Feb 2026 - 17:37
Jembatan Jabak Putus Diterjang Banjir, 700 Warga Ponorogo Andalkan Kereta Gantung Darurat
Warga Desa Gedangan, Ponorogo, Jawa Timur, pakai kereta gantung darurat karena jembatan rusak. (Berita satu com/Gayuh Satria Wicaksono

PONOROGO, SJP – Warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, terpaksa menggunakan kereta gantung swadaya untuk menyeberangi Sungai Jabak setelah jembatan utama penghubung antarwilayah rusak berat akibat banjir.

Bencana banjir yang terjadi pada 2 Januari 2026 mengakibatkan kerusakan total pada Jembatan Jabak yang menghubungkan Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, dengan Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Akibatnya, akses utama warga terputus dan menyebabkan wilayah tersebut terisolasi.

Selama kurang lebih 30 hari terakhir, masyarakat mengandalkan kereta gantung darurat yang dibuat secara swadaya untuk menunjang aktivitas pendidikan, ekonomi, hingga layanan kesehatan.

Kereta gantung tersebut dibangun menggunakan penyangga kayu dan tali seling seadanya. Meski sederhana dan penuh risiko, fasilitas ini menjadi satu-satunya alternatif karena jika melalui jalur memutar, warga harus menempuh jarak tambahan lebih dari 20 kilometer.

Setiap hari, sekitar 10 siswa mulai tingkat SD hingga SMA menggunakan kereta gantung tersebut untuk berangkat sekolah. Salah satunya adalah Risky Kurniawan, yang sejak kecil bersekolah di wilayah Trenggalek karena lokasinya lebih dekat dari tempat tinggalnya.

“Setiap hari lewat sini. Takut banget kalau banjir besar tiba-tiba datang,” ujar Risky, Sabtu (14/2/2026).

Selain pelajar, warga yang bekerja lintas kabupaten juga menggantungkan mobilitasnya pada fasilitas darurat tersebut. Febia Elen, warga Trenggalek, mengaku kereta gantung menjadi jalur tercepat menuju tempat kerjanya di Ponorogo.

“Kereta gantung ini jadi jalur paling cepat untuk kerja ke Ponorogo, karena jembatan Jabak yang biasa saya lewati sudah rusak,” tuturnya.

Suyanto, pengelola sekaligus warga setempat, menjelaskan, pembangunan kereta gantung darurat tersebut merupakan hasil patungan warga dengan total biaya sekitar Rp10 juta.

“Warga patungan membangun kereta gantung darurat. Biayanya sekitar Rp10 juta dari uang swadaya masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, Jembatan Jabak merupakan infrastruktur vital yang menjadi satu-satunya akses bagi sekitar 700 warga Dusun Purworejo untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan.

“Kalau lewat Pacitan terlalu jauh. Jadi kereta gantung ini menjadi penghubung antar-kabupaten antara Ponorogo dan Trenggalek,” tambahnya.

Sebelum diterjang banjir, Jembatan Jabak memiliki panjang sekitar 70 meter. Namun, derasnya arus sungai menyebabkan dua pondasi beton roboh dan sekitar 25 meter badan jembatan hanyut.

Sebagai solusi sementara, warga juga berinisiatif membangun jembatan darurat sepanjang kurang lebih 40 meter. Sementara itu, kereta gantung dioperasikan secara manual oleh warga yang bergantian menjaga dan menarik sistem tali. Penggunaannya tidak dipungut biaya dan sepenuhnya bersifat sukarela.

Hingga kini, warga berharap adanya perhatian dan penanganan dari pemerintah agar akses penghubung utama tersebut segera dibangun kembali demi keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat. (**)

Sumber: beritasatu.com. 

Penulis : Paskalis Arakat, mahasiswa magang Unitri

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow