Nilai Tukar Petani Jawa Timur Naik 1,16 Persen, Didorong Kenaikan Harga Hortikultura

Musim penghujan menekan produksi cabai, distribusi terganggu, harga melonjak lebih dari 50 persen, dorong kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur 1,16 persen di Januari 2025.

03 Feb 2025 - 22:30
Nilai Tukar Petani Jawa Timur Naik 1,16 Persen, Didorong Kenaikan Harga Hortikultura
Kepala BPS Jatim, Zulkipli, menjelaskan faktor kenaikan NTP Jawa Timur dalam konferensi pers di Surabaya. (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) provinsi ini mengalami kenaikan 1,16 persen pada Januari 2025, dari 111,96 menjadi 113,26. 

Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,35 persen, yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,19 persen.

Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik (BRS) di kantor BPS Jatim, Senin (3/2/2025), menjelaskan bahwa beberapa faktor musiman turut memengaruhi pergerakan harga komoditas utama di awal tahun. 

"Berakhirnya masa libur Natal dan Tahun Baru menyebabkan beberapa komoditas yang sebelumnya mengalami inflasi mulai kembali ke harga normal. Salah satunya adalah telur ayam ras, yang kini mengalami penurunan harga," ungkap Zulkifli, Senin (3/2/2025).

Meski begitu, subsektor hortikultura mencatat kenaikan NTP tertinggi, yakni 14,49 persen, dari 136,04 menjadi 155,75. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah yang mencapai lebih dari 50 persen, akibat dampak musim penghujan yang menghambat produktivitas dan distribusi.

"Musim penghujan menyebabkan produksi cabai menurun di beberapa wilayah, selain itu kendala distribusi membuat cabai lebih cepat membusuk, sehingga pasokan berkurang dan harga melonjak," jelas Zulkipli.

Di sisi lain, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat juga mengalami kenaikan NTP sebesar 2,81 persen, dipengaruhi oleh naiknya harga tebu dan kopi. Sedangkan subsektor Perikanan naik 1,38 persen, baik untuk perikanan tangkap maupun budidaya.

Namun, tidak semua subsektor mencatat kenaikan. Subsektor peternakan mengalami penurunan NTP terdalam, yaitu -2,13 persen, disebabkan oleh turunnya harga sapi potong dan susu sapi perah. 

Begitu pula dengan subsektor tanaman pangan yang turun -1,03 persen, salah satunya dipengaruhi oleh musim panen bawang merah di Kabupaten Nganjuk dan Probolinggo yang meningkatkan pasokan dan menekan harga di pasaran.

"Dengan masuknya masa panen di beberapa wilayah, harga bawang merah mulai turun, dan ini berpengaruh terhadap indeks harga yang diterima petani," tambah Zulkipli.

Secara keseluruhan, dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa, NTP Jawa Timur tercatat sebagai yang tertinggi kedua setelah Jawa Barat yang naik 2,21 persen. Sementara itu, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki NTP yang relatif stabil tanpa perubahan signifikan.

Zulkipli menegaskan bahwa tren kenaikan NTP ini menjadi indikasi positif bagi daya beli petani Jawa Timur, terutama di sektor hortikultura dan perkebunan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa fluktuasi harga akibat faktor musiman dan cuaca tetap perlu diantisipasi di waktu yang akan datang. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow