Ribuan Warga Mojokerto Tempuh 7 Kilometer demi Air untuk Kebutuhan Sehari-hari
Sudah empat bulan kekeringan, tetapi bantuan air bersih belum kunjung datang.
MOJOKERTO, SJP–Musim kemarau yang telah berlangsung selama empat bulan sejak April 2026 memicu krisis air bersih parah di Kabupaten Mojokerto.
Ribuan kepala keluarga (KK) di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, kini terpaksa menempuh perjalanan sejauh 7 kilometer hingga ke wilayah Kabupaten Pasuruan untuk mendapatkan air bersih.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mencatat, Desa Kunjorowesi menjadi titik terdampak paling parah di kawasan kaki Gunung Penanggungan.
Kondisi ini memaksa warga bergantung pada sisa air hujan yang kini sudah hampir habis, serta sistem distribusi pipa bantuan yang dinilai belum mencukupi.
Mahfud (43), warga Dusun Kandangan, mengungkapkan bahwa krisis ini merupakan masalah berulang setiap tahun yang hingga kini belum teratasi.
Menurutnya, pasokan air melalui pipa desa tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga karena sistem pembagian yang bergiliran.
"Masalah air bersih di sini memang terjadi setiap tahun. Air hujan yang ditampung di rumah hanya cukup untuk sebulan. Sedangkan untuk pipa bantuan, kami harus mengantre giliran. Ada 12 RT yang dilayani, sehingga RT kami harus menunggu 12 hari untuk mendapatkan aliran air yang hanya menyala dua hari sampai satu minggu," ungkap Mahfud, Sabtu (18/7/2026).
Karena keterbatasan pasokan tersebut, warga terpaksa mencari sumber air alternatif ke area Sumber Tetek, Desa Wonosunyo, Kabupaten Pasuruan.
"Kami harus menempuh jarak sekitar tujuh kilometer. Bagi warga yang punya sepeda motor, mereka mengambil air sendiri. Namun, bagi yang tidak punya, mereka biasanya patungan menyewa mobil pikap," tambahnya.
Warga sebenarnya telah berupaya mencari solusi mandiri dengan melakukan pengeboran sumber air sebanyak dua kali. Namun, meski telah melibatkan tenaga ahli, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Mahfud berharap pemerintah daerah segera turun tangan menyalurkan bantuan air bersih secara rutin.
"Sudah empat bulan kekeringan, tetapi bantuan air bersih belum kunjung datang. Kami sangat berharap BPBD Kabupaten Mojokerto dan dinas terkait segera membantu kebutuhan kami," harapnya.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, krisis air bersih tidak hanya terjadi di Desa Kunjorowesi.
Terdapat tiga desa di kawasan kaki Gunung Penanggungan yang kini mengalami kesulitan air, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro sebanyak 1.499 KK (3.053 jiwa) terdampak; Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro sebanyak 774 KK (2.086 jiwa) terdampak; dan Desa Duyung, Kecamatan Trawas 503 KK (1.564 jiwa) terdampak. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

