Diskon 50 Persen Tarif Listrik, Beri Andil Besar terhadap Deflasi di Jawa Timur pada Januari 2025

Diskon 50 persen tarif listrik dorong deflasi Jawa Timur Januari 2025, sumbang penurunan hingga 1,19 persen di sektor perumahan, air, dan listrik, jaga stabilitas harga di tengah tekanan inflasi.

03 Feb 2025 - 22:01
Diskon 50 Persen Tarif Listrik, Beri Andil Besar terhadap Deflasi di Jawa Timur pada Januari 2025
Kepala BPS Jatim, Zulkipli, memaparkan kontribusi diskon tarif listrik 50% terhadap deflasi Jawa Timur pada rilis BRS di Surabaya, Senin (3/2/2025) (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Pada awal tahun 2025, Jawa Timur mencatatkan fenomena ekonomi yang menarik, deflasi sebesar 0,54 persen secara bulanan (m-to-m) dan deflasi year-to-date (y-to-d) dengan inflasi tahunan (y-on-y) tetap terkendali di angka 1,06 persen. 

Salah satu faktor kunci di balik tren ini adalah kebijakan diskon tarif listrik 50 persen yang diterapkan PT PLN (Persero) sejak Januari 2025.

Hal tersebut diungkapkan dalam acara rilis Berita Resmi Statistik (BRS) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Senin (3/2/2025).

Dalam paparannya, Kepala BPS Jatim, Zulkipli, menegaskan bahwa kebijakan diskon listrik tersebut memiliki andil signifikan terhadap deflasi di sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

"Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi sebesar 9,76 persen secara tahunan. Kontributor utamanya adalah penurunan tarif listrik yang menyumbang deflasi hingga 1,19 persen,” ujar Zulkipli, Senin (3/2/2025)

Diskon Listrik PLN: Efek Domino pada Stabilitas Harga

Diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang diberikan kepada pelanggan rumah tangga berdaya 450 VA hingga 2.200 VA ini memang dirancang untuk mendukung daya beli masyarakat.

Kebijakan ini berlaku selama dua bulan, yakni Januari hingga Februari 2025, dan berdampak langsung pada tagihan listrik lebih dari 81 juta rumah tangga di seluruh Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Berdasarkan data BPS, penurunan signifikan terjadi pada subkelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat deflasi sebesar 22,53 persen.

Penurunan ini menciptakan efek domino terhadap pengeluaran rumah tangga lainnya, mendorong masyarakat untuk mengalokasikan anggaran listrik yang lebih hemat ke kebutuhan lain tanpa memicu lonjakan inflasi.

Menyeimbangkan Tekanan Inflasi dari Sektor Lain

Menariknya, meskipun kelompok perumahan mengalami deflasi, beberapa kelompok pengeluaran lain justru mengalami inflasi yang cukup tinggi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau misalnya, mencatat inflasi tahunan sebesar 3,92 persen, sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak hingga 7,09 persen.

Zulkipli menambahkan bahwa dampak positif dari diberlakukannya diskon listrik ialah berhasil menyeimbangkan tekanan inflasi di sektor lain.

"Tanpa penurunan tarif listrik ini, angka inflasi di Jawa Timur bisa saja lebih tinggi. Kebijakan ini menjadi instrumen pengendali inflasi yang efektif di tengah fluktuasi harga komoditas lainnya," sebutnya.

Dampak Lebih Luas: Daya Beli Masyarakat Terjaga

Program diskon listrik ini juga berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan beban biaya listrik yang lebih ringan, rumah tangga memiliki fleksibilitas lebih dalam mengelola keuangan mereka.

"Pengurangan tarif listrik ini bukan hanya mengurangi tekanan inflasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan rumah tangga secara langsung. Ini menunjukkan bagaimana kebijakan di sektor energi dapat berdampak luas pada stabilitas ekonomi," jelas Zulkipli.

Menanti Efek Berkelanjutan di Bulan Berikutnya

Karena diskon tarif listrik ini masih berlaku hingga Februari 2025, diperkirakan deflasi di sektor terkait akan berlanjut pada rilis data berikutnya. Meski demikian, BPS mengingatkan bahwa faktor musiman dan fluktuasi harga pangan tetap harus diwaspadai sebagai potensi pendorong inflasi di masa mendatang. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow