Defisit Neraca Perdagangan Jawa Timur Capai USD 669,94 Juta, BPS: "Sektor Migas Jadi Pemicu Utama"

Sektor migas masih menjadi penyumbang utama defisit, dengan mencatat angka sebesar USD 437,46 juta pada Desember 2024.

04 Feb 2025 - 20:46
Defisit Neraca Perdagangan Jawa Timur Capai USD 669,94 Juta, BPS: "Sektor Migas Jadi Pemicu Utama"
Kepala BPS Jatim, Zulkipli menyebut sektor migas menjadi penyumbang utama defisit Jawa Timur pada Desember 2024 (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat bahwa neraca perdagangan Jawa Timur pada Desember 2024 kembali mengalami defisit sebesar USD 669,94 juta. Defisit ini disebabkan oleh tingginya nilai impor yang mencapai USD 2,77 miliar, sementara ekspor tercatat lebih rendah, yakni USD 2,10 miliar.

Kepala BPS Jawa Timur, Zulkifli, mengungkapkan bahwa sektor migas masih menjadi penyumbang utama defisit. Pada Desember 2024, perdagangan migas mencatat defisit hingga USD 437,46 juta, sedangkan sektor nonmigas juga mengalami defisit meskipun lebih kecil, yakni USD 232,48 juta.

"Secara keseluruhan, neraca perdagangan kita masih defisit, terutama karena sektor migas yang terus mengalami tekanan. Impor migas kita tinggi, sementara ekspor di sektor ini justru mengalami penurunan yang cukup dalam," ujar Zulkifli saat dikonfirmasi pada Selasa (4/2/2025).

Meski demikian, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, defisit perdagangan Jawa Timur pada 2024 menunjukkan perbaikan. Sepanjang Januari-Desember 2024, defisit tercatat sebesar USD 4,18 miliar, lebih rendah dibandingkan defisit tahun 2023 yang mencapai USD 7,05 miliar.

Lonjakan Impor, Penurunan Ekspor

Berdasarkan data BPS, peningkatan defisit pada Desember 2024 dipicu oleh kenaikan impor sebesar 12,96 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan impor nonmigas sebesar 17,25 persen, terutama pada kategori mesin dan peralatan mekanis, besi baja, serta perhiasan.

Sebaliknya, ekspor Jawa Timur mengalami penurunan sebesar 5,69 persen dibandingkan November 2024. Ekspor migas turun drastis hingga 50,65 persen, sedangkan ekspor nonmigas turun 4,08 persen, dengan penurunan terbesar terjadi pada sektor perhiasan dan tembaga.

"Pelemahan ekspor kita terutama terjadi pada sektor nonmigas, yang secara historis menjadi tulang punggung perdagangan Jawa Timur. Jika tren ini terus berlanjut, tentu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah," lanjut Zulkifli.

Perlunya Strategi Baru

Melihat tren ini, BPS menilai bahwa diperlukan strategi untuk meningkatkan daya saing ekspor Jawa Timur, terutama di sektor nonmigas yang selama ini mendominasi perdagangan luar negeri provinsi tersebut.

"Meningkatkan diversifikasi produk ekspor dan memperluas pasar tujuan menjadi salah satu solusi agar defisit ini tidak terus berlanjut," tegas Zulkifli.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti perlunya efisiensi di sektor migas agar ketergantungan terhadap impor bisa ditekan. Pemerintah daerah dan pelaku industri diharapkan dapat bekerja sama dalam merumuskan kebijakan perdagangan yang lebih adaptif terhadap kondisi global.

Dengan tren defisit yang lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya, optimisme masih ada bagi Jawa Timur untuk memperbaiki neraca perdagangannya. Namun, langkah konkret untuk memperkuat ekspor dan menekan ketergantungan terhadap impor tetap menjadi tantangan utama di tahun-tahun mendatang. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow