Santri Tambakberas Jombang Serap Nilai Kepemimpinan di Tengah Nobar Final Piala Dunia
Pembekalan ini berlangsung dalam acara silaturahmi yang dirangkaikan dengan nonton bareng (nobar) final Piala Dunia antara Spanyol vs Argentina, Senin (20/7/2026) dini hari.
JOMBANG, SJP — Ratusan santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mendapatkan pembekalan seputar kepemimpinan, kolaborasi, dan urgensi menuntut ilmu dari dua tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Pembekalan ini berlangsung dalam acara silaturahmi yang dirangkaikan dengan nonton bareng (nobar) final Piala Dunia antara Spanyol vs Argentina, Senin (20/7/2026) dini hari.
Kegiatan yang digelar di Ribath Al Lathifiyah 2 dan Al Wahabiyah 1, Pesantren Tambakberas, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur itu menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta Ketua Umum PP Majelis Alumni IPNU, Prof KH Asrorun Niam Sholeh. Hadir pula Nyai Dr. Dra. Hj. Lelly Lailiyah, Sekretaris Jenderal Presidium Pusat Majelis Alumni IPNU Idy Muzayad, sejumlah kiai muda, dan alumni IPNU.
Mewakili Pengasuh Ribath Al Lathifiyah 2, Hj. Mundjidah Wahab, H. Mujtahidur Ridho (Gus Edo) menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh nasional di tengah lingkungan pesantren.
"Momentum ini menjadi kesempatan bagi santri untuk menyerap pengalaman dan nasihat dari para ulama, terlebih Tambakberas tengah bersiap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU," ujar Gus Edo.
Dalam arahannya, Gus Kikin menilai sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan sarana belajar tentang kehidupan. Ia menekankan bahwa sebuah tim hanya bisa meraih kemenangan bila setiap pemain memahami perannya, menjunjung disiplin, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Nilai-nilai itu, menurutnya, selaras dengan ajaran pesantren dan menjadi bekal penting dalam berorganisasi maupun mengabdi kepada masyarakat. Ia pun mencontohkan keberhasilan pemain muda dunia yang mampu bersaing di level tertinggi berkat latihan dan kedisiplinan sejak dini.
"Semangat tersebut layak diteladani santri dalam mengembangkan potensi di bidang masing-masing," ungkapnya.
Menjelang Muktamar ke-35 NU, Gus Kikin berharap para santri memanfaatkan kehadiran para ulama dan kiai dari berbagai daerah untuk memperluas wawasan serta mengambil keberkahan ilmu.
"Penting bagi kita untuk menjaga tradisi baik yang ada di pesantren, sembari tetap terbuka dengan perkembangan zaman agar lulusan pesantren mampu menjawab tantangan masyarakat modern," pungkasnya.
Senada dengan itu, Prof Asrorun Niam Sholeh mengajak para santri memanfaatkan masa muda untuk memperbanyak belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Ia menilai usia muda adalah fase paling tepat mengejar cita-cita karena energi dan kesempatan masih terbuka lebar. Dirinya juga mencontohkan semangat Nyai Lelly Lailiyah yang tetap menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral sebagai bukti bahwa menuntut ilmu tidak dibatasi usia.
Gus Niam pun mengaitkan nilai-nilai dalam sepak bola dengan kehidupan berorganisasi. Menurutnya, pertandingan mengajarkan sportivitas dan penghormatan terhadap lawan, di mana perbedaan di lapangan tidak menghalangi para pemain untuk tetap menjalin persaudaraan. Filosofi itu dinilainya relevan dengan semangat Nahdlatul Ulama yang mengedepankan ukhuwah, kolaborasi, dan persatuan.
"Organisasi besar hanya dapat tumbuh jika dibangun melalui kerja sama, bukan dengan mempertajam perbedaan," tandasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

