Bondowoso Siap Jadi Model Pertanian Modern dan Penyangga Swasembada Pangan Nasional
Pemkab Bondowoso menegaskan komitmen memperkuat pertanian modern dan organik. Produksi padi mencapai 600 ribu ton pada 2025, sementara lahan organik berkembang menjadi 230 hektare dengan dukungan inovasi teknologi dan pemerintah pusat.
BONDOWOSO, SJP – Pemerintah Kabupaten Bondowoso menegaskan komitmennya memperkuat posisi daerah sebagai salah satu lumbung pangan nasional melalui pengembangan pertanian modern, ramah lingkungan, dan berbasis inovasi. Komitmen tersebut disampaikan di hadapan perwakilan pemerintah pusat saat kunjungan kerja lintas kementerian di Kabupaten Bondowoso, Senin (20/7/2026).
Penguatan sektor pertanian menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah seiring besarnya potensi lahan pertanian yang dimiliki Bondowoso. Selain terus meningkatkan produksi pangan, pemerintah daerah juga mendorong penerapan teknologi budidaya, pengembangan pertanian organik, hingga hilirisasi hasil pertanian agar mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Tak hanya mengandalkan produktivitas, Bondowoso juga mulai mengembangkan pertanian berkelanjutan dengan memperluas kawasan pertanian organik dan memperkuat identitas produk unggulan daerah. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing komoditas pertanian Bondowoso di pasar nasional maupun internasional.
Komitmen itu disampaikan Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, saat menyampaikan laporan dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Pertanian, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Wakil Menteri Perindustrian, serta Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari.
Dalam kesempatan itu, bupati menjelaskan, Kabupaten Bondowoso memiliki luas lahan pertanian sekitar 35.093 hektare dengan kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) mencapai 45.000 hektare. Potensi tersebut menjadikan Bondowoso sebagai salah satu daerah penyangga ketahanan pangan di Jawa Timur.
Produksi padi Bondowoso pada 2025 tercatat mencapai sekitar 600 ribu ton. Menurut Bupati, capaian tersebut merupakan hasil kerja sama antara petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan dukungan berbagai program pemerintah.
"Kabupaten Bondowoso memiliki luas lahan pertanian mencapai 35.093 hektare dengan LP2B seluas 45.000 hektare. Produksi padi pada tahun 2025 mencapai 600 ribu ton sehingga Bondowoso turut berkontribusi mendukung program swasembada pangan nasional," ujar Abdul Hamid.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah daerah juga memperluas pengembangan pertanian organik. Saat ini luas lahan organik di Bondowoso telah mencapai 230 hektare yang tersebar di Desa Lombok Kulon, Desa Sulek, dan Desa Gadingsari.
Menurutnya, program tersebut difokuskan untuk menghasilkan beras organik berkualitas tinggi yang memiliki nilai ekonomi lebih baik sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
"Pertanian organik terus kami kembangkan sebagai produk unggulan daerah. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, petani tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga menjaga kualitas lahan untuk jangka panjang," katanya.
Bupati yang karib disapa Ra Hamid ini juga mengungkapkan, Bondowoso memiliki produk unggulan Beras Sintanur Lembah Raung yang pada 2025 telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Pengakuan tersebut menjadi bukti keunikan kualitas beras yang dihasilkan dari kawasan Lembah Raung.
Di sisi lain, inovasi teknologi pertanian juga terus diperkuat. Selama ini petani Bondowoso telah menerapkan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi biaya dan produktivitas. Pemerintah daerah kini mendorong penerapan metode PM-AAS sebagai inovasi baru yang diharapkan semakin meningkatkan hasil panen.
"Petani Bondowoso memiliki kesiapan yang tinggi dalam menerima inovasi. Dengan dukungan penyuluh pertanian di setiap wilayah, kami optimistis metode PM-AAS dapat diterapkan secara lebih luas," ujarnya.
Menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan, Pemkab Bondowoso terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat modernisasi sektor pertanian.
Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan sejumlah usulan kepada pemerintah pusat, di antaranya pembangunan rumah produksi pengolahan hasil pertanian serta bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) pascapanen. Menurutnya, dukungan tersebut penting untuk meningkatkan efisiensi pengolahan hasil panen, mengurangi kehilangan hasil, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
"Kami berharap dukungan dari pemerintah pusat dalam penyediaan sarana dan prasarana pertanian. Dengan kolaborasi yang kuat, kami yakin Bondowoso dapat menjadi contoh daerah yang berhasil mengintegrasikan pertanian tradisional dengan teknologi modern untuk mewujudkan pertanian yang maju, berkelanjutan, dan menyejahterakan petani," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

