Kunjungan Wisata Batu Merosot Tajam, DPRD Bongkar Borok Pengelolaan
Jumlah kunjungan wisatawan 2025 ke kota dingin ini dilaporkan hanya menyentuh angka 9,7 juta jiwa. Angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan sebesar 1,3 juta kunjungan dibandingkan tahun 2024 yang mampu menembus angka 11 juta.
KOTA BATU, SJP — Sektor pariwisata Kota Batu tengah berada dalam masa kritis. Sepanjang tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke kota dingin ini dilaporkan hanya menyentuh angka 9,7 juta jiwa.
Angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan sebesar 1,3 juta kunjungan dibandingkan tahun 2024 yang mampu menembus angka 11 juta wisatawan.
Anggota Komisi B DPRD Kota Batu, Sujono Djonet, menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar fluktuasi tren biasa, melainkan alarm keras bagi arah kebijakan pariwisata daerah.
Menurutnya, Pemerintah Kota Batu tidak boleh bersikap normatif dalam merespons kemunduran ini.
Sujono menyoroti adanya indikasi masalah struktural, terutama pada aspek perencanaan dan efektivitas program.
Ia menilai Kota Batu kini mulai kehilangan daya saing dibandingkan daerah lain yang sebelumnya justru berguru pada Kota Batu.
"Kota Batu mengalami stagnasi inovasi. Daerah lain kini sudah mampu mensejajarkan diri, sementara kita seolah jalan di tempat. Jika tidak segera dibenahi, Batu akan kehilangan statusnya sebagai rujukan wisata regional," tegas dia saat dikonfirmasi, Sabtu (24/1/2026).
DPRD Kota Batu telah memanggil Dinas Pariwisata dalam sebuah forum hearing untuk membedah akar persoalan. Salah satu poin yang menjadi penyebab adalah efektivitas kalender event pariwisata.
Dewan menilai banyak agenda yang dicanangkan tidak memiliki daya ungkit terhadap angka kunjungan.
Menurutnya, sejauh ini hanya segelintir acara seperti Festival 1.000 Banteng dan Batu Art Flower Carnival yang benar-benar menjadi magnet wisatawan. Selebihnya, banyak event yang dinilai hanya bersifat seremonial tanpa nilai jual yang kuat.
"Wisatawan datang ke Batu karena kekuatan destinasi, bukan karena event temporer yang kurang matang konsepnya. Perlu ada evaluasi total, bahkan penggantian konsep event dengan melibatkan sektor swasta secara lebih agresif dan relevan," imbuhnya.
Selain masalah strategi promosi, DPRD juga mempertanyakan validitas dan metode penghitungan data kunjungan.
Data yang akurat dinilai sebagai fondasi utama dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran, terutama di tengah kondisi daya beli masyarakat yang cenderung fluktuatif pasca-pandemi.
Di sisi lain, legislator ini juga memberikan apresiasi terhadap perbaikan infrastruktur fisik seperti revitalisasi trotoar dan taman kota. Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik harus dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan (hospitality) dan atmosfer keramahan kota.
"Pengalaman wisata yang berkualitas tidak hanya soal fasilitas fisik, tapi bagaimana layanan publik dan sikap masyarakat mampu menciptakan kesan mendalam bagi pelancong. Inilah yang harus kita perkuat kembali," pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

