Kreativitas Anak Kampung Bakat Bersinar dalam Program KISAH: Perpaduan Seni, Inovasi, dan Keberlanjutan

Anak-anak Kampung Bakat Sonokwijenan mengubah limbah kain jadi karya seni dan tampil memukau di festival kota, sebuah kisah tentang harapan, kreativitas, dan ruang ekspresi yang nyaris terlupakan.

29 Apr 2025 - 21:03
Kreativitas Anak Kampung Bakat Bersinar dalam Program KISAH: Perpaduan Seni, Inovasi, dan Keberlanjutan
Anak-anak Kampung Bakat berlatih seni 3D fashion dan pertunjukan budaya dalam program KISAH (Istimewa)

SURABAYA, SJP - Di tengah riuhnya geliat kota besar, ruang untuk anak-anak mengejar mimpi sering kali tersisih oleh beton dan aspal.

Di Surabaya, di sudut Kampung Bakat Sonokwijenan, sebuah inisiatif unik lahir, menjahit limbah menjadi karya seni, melatih suara kecil menjadi pertunjukan besar. 

Program KISAH menjadi saksi bahwa kreativitas bisa tumbuh dari tempat-tempat sederhana, asalkan diberi ruang, perhatian, dan kesempatan.

KISAH: Perpaduan Seni, Inovasi, dan Keberlanjutan

Program KISAH (Kreativitas dan Inovasi Seni Anak dalam Harmoni) hadir sebagai bentuk pengabdian masyarakat dari para dosen Universitas Ciputra Surabaya.

Inisiatif ini menggabungkan pelatihan seni visual dan pertunjukan budaya untuk anak-anak di Kampung yang terletak di Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya itu.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh para dosen dari Program Studi Fashion Design, Business Management, dan Hotel Tourism, diantaranya Olivia Gondoputranto, Agus Sugiharto, Hendry Pranoto, Liestya Padmawidjaja, dan Hendra.

Sejumlah mahasiswa lintas jurusan Universitas Ciputra juga turut terlibat dalam mendampingi anak-anak selama proses pelatihan.

"Melalui KISAH, kami ingin memberi ruang baru bagi anak-anak untuk menemukan ekspresi diri, membangun keterampilan seni, dan memahami pentingnya keberlanjutan melalui karya kreatif berbasis limbah tekstil," ujar Olivia Gondoputranto, salah seorang dosen penggagas program.

Pelatihan 3D Fashion dan Performing Art Swara Bakat

Program KISAH terbagi dalam dua kegiatan utama, yaitu:

  1. Pelatihan seni visual 3D Fashion, di mana anak-anak diajarkan mengolah limbah kain menjadi produk kreatif seperti totebag melalui teknik upcycle. Bukan hanya tentang membuat barang baru, melainkan juga menanamkan kesadaran tentang pentingnya daur ulang dan nilai tambah dari limbah.
  2. Pelatihan performing art bertajuk Swara Bakat. Dalam kegiatan itu, anak-anak dilatih untuk mengekspresikan diri lewat pertunjukan budaya, memperkenalkan kembali nilai-nilai lokal dalam bentuk pentas seni yang atraktif.

Kedua pelatihan tersebut dilakukan dengan pendekatan partisipatif, mendorong anak-anak untuk berani berkreasi, berpikir kritis, dan bekerja sama dalam tim.

Puncak Acara di Acculturate Festival

Sebagai puncak kegiatan, seluruh hasil pelatihan dipamerkan dalam Acculturate Festival, sebuah acara publik yang mempertemukan beragam ekspresi seni dan budaya. Anak-anak Kampung Bakat Sonokwijenan menampilkan pertunjukan Swara Bakat yang membawakan cerita lokal dengan energi penuh.

Di sisi lain, karya-karya 3D Fashion berupa totebag dari limbah kain juga dipamerkan dan dijual dalam festival tersebut. Tidak hanya memamerkan produk, anak-anak dilatih untuk berinteraksi langsung dengan pengunjung, memasarkan hasil karyanya, dan memahami nilai usaha kreatif.

Festival itu menjadi bukti nyata bahwa upaya kecil di komunitas bisa melahirkan dampak besar, tidak hanya bagi perkembangan anak-anak, tapi juga untuk memperkuat identitas budaya lokal.

Membangun Kepercayaan Diri dan Kesadaran Sosial

Program KISAH hadir menjawab tantangan kurangnya fasilitator seni profesional di kawasan padat penduduk serta minimnya ruang ekspresi anak-anak.

Dengan metode berbasis komunitas, KISAH tidak sekadar melatih keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri, literasi budaya, hingga kesadaran kewirausahaan sosial pada anak-anak peserta.

"Anak-anak belajar tidak hanya membuat karya, tetapi juga memperkenalkan dan memasarkan karya mereka kepada masyarakat luas," tambah Agus Sugiharto.

Harapan untuk Inspirasi Nasional

Melengkapi capaian program tersebut, Istoyo, selaku Koordinator sekaligus pegiat Kampung Bakat Sonokwijenan, menegaskan pentingnya memberikan ruang berekspresi bagi anak-anak di komunitas marginal.

"Kegiatan ini membuktikan bahwa dengan ruang yang tepat, anak-anak dari komunitas urban mampu mengekspresikan kreativitasnya sekaligus berkontribusi pada penguatan identitas budaya dan potensi ekonomi lokal," ujar Istoyo.

Ia berharap, Program KISAH dapat menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di berbagai komunitas lain di Indonesia lewat mengintegrasikan seni, inovasi, dan keberlanjutan sosial dalam satu langkah nyata menuju pemberdayaan. (***)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow