Ketika Punk Rock Bertemu Ketulusan: Anto Baret dan Marjinal Siap Guncang Kota Malang
Kolaborasi balada penuh makna Anto Baret dan energi punk rock Marjinal menghidupkan kembali semangat komunitas jalanan di Malang. Konser akan digelar di Gedung Kesenian Gajayana mulai pukul 17.00 WIB, menyatukan lintas generasi dalam musik.
MALANG, SJP—Di balik dentuman gitar yang keras dan tempo cepat punk rock, tersimpan ketulusan dan semangat yang mengalir dari panggung ke hati para pendengar. Inilah yang coba dihadirkan Anto Baret bersama Marjinal dalam konser bertajuk “Sambang Sambung Sketsa Jalanan” yang akan digelar di Kota Malang, Sabtu (26/7/2025).
Semangat itu mengalir sejak konser sebelumnya di Coban Kethak, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Mei lalu. Saat itu, Anto Baret—figur yang sudah malang melintang di dunia musik jalanan sejak era 1980-an—membawa pesan kuat tentang pentingnya membangun kesadaran lintas generasi dan komunitas.
“Tantangannya memang berat. Bagaimana kami bisa menyinkronkan perasaan Om Anto yang penuh ketulusan dengan energi punk rock yang keras. Tapi di situlah seninya, dan akhirnya kami berhasil memadukan dua dunia itu,” ujar Mike Marjinal, saat konferensi pers di Kopi Tot Tot Heritage, Kayutangan, Jumat (25/7/2025).
Menurut Jose Marjinal, Malang adalah barometer musik jalanan. “Kota ini bisa jadi contoh untuk daerah lain. Komunitas-komunitas di sini selalu hidup, memberi semangat baru bagi anak muda,” ujarnya penuh keyakinan.
Konser ini bukan sekadar pentas musik. Lebih dari itu, ia menjadi perayaan kesadaran kolektif. “Sketsa jalanan adalah ruang untuk mengumpulkan kesadaran itu, supaya tetap hidup dalam karya,” tegas Anto Baret.
Jose menambahkan, pengalaman berada satu panggung dengan guru jalanan ini dan rekan-rekan Marjinal adalah berkah tersendiri. “Bersama beliau, Mike, Mogi, Mas Hendrik, dan Mas Toto Tewel, saya belajar banyak tentang kekuatan musik sebagai media menyatukan perasaan, kegelisahan, dan harapan.”
Sabtu nanti, Malang akan kembali bergemuruh oleh irama punk yang bukan hanya keras di telinga, tapi juga penuh makna di hati. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

