Lebih dari Sekadar Besi, Ini Makna VW Kodok bagi Seorang Bandyk Sutrisno
Nilai keklasikan , originalitas dan kecintaannya pada mobil tersebut membuatnya menolak mentah-mentah tawaran pembeli yang berani membayar mahal. Bandyk bercerita, mobilnya pernah ditawar dengan harga fantastis, mencapai Rp 150 juta namun ia tolak.
KOTA PROBOLINGGO, SJP — Memiliki mobil klasik rupanya menjadi kebanggaan dan prestise tersendiri bagi para pecinta otomotif, terlebih jika mobil tersebut langka dan punya nilai historis tinggi.
Seperti halnya yang dirasakan oleh Bandyk Sutrisno, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Probolinggo, dengan Volkswagen (VW) Kodok kebanggaannya.
Bandyk, sapaan akrabnya, dengan antusias memamerkan koleksi mobil klasiknya tersebut kepada awak media pada Kamis (28/08/2025).
Mobil VW Kodok berkelir biru yang terawat itu bukan sekadar pajangan, melainkan telah menjadi saksi bisu perjalanannya usai memasuki masa pensiun pada 2009 silam.
“Ini menjadi kendaraan sehari-hari di masa tuanya,” ujar Bandyk sambil memperhatikan bodi mobilnya yang kinclong di Jalan Ais Nasution saat bermain tenis.
Mobil warna biru tosca tahun 1979 itu ia beli jauh sebelumnya, tepatnya pada tahun 2000, menariknya, Bandyk membantah anggapan umum bahwa merawat mobil klasik selalu memakan biaya yang mahal.
“Ini kan serba original semuanya. Cuma ada yang saya ganti sedikit seperti velg, ban, dan cat ulang sesuai warna aslinya. Namun, tiap bulannya kalau perawatan juga cukup murah, paling sekitar seratus sampai dua ratus ribuan, kecuali ganti sparepart,” jelasnya yang juga merupakan Mantan Wakil Wali Kota Probolinggo.
Awal Mula Kecintaan dan Komunitas
Cerita awal kepemilikannya terhadap mobil legendaris itu berawal dari sebuah ketidaksengajaan yang berujung pada kecintaan.
Kakek 74 tahun dengan 4 cucu ini menjelaskan, VW Kodok tersebut ia beli saat berada di kampung halamannya di Sidoarjo.
“Saya melihat kok unik ya, akhirnya saya suka saya beli dengan harga 26 juta. Nah setelah saya beli itu, akhirnya dijadikan ketua komunitas,” tuturnya.
Sejak aktif di komunitas mobil VW Kodok, kehidupan sosialnya pun semakin berwarna.
Komunitas yang beranggotakan sekitar 22 orang itu rutin mengadakan touring bersama, jarak terjauh yang pernah ia tempuh bersama rekan-rekan komunitasnya adalah hingga ke Yogyakarta.
Nilai keklasikan, originalitas dan kecintaannya pada mobil tersebut membuatnya menolak mentah-mentah tawaran pembeli yang berani membayar mahal.
Bandyk bercerita, mobilnya pernah ditawar dengan harga fantastis, mencapai Rp150 juta.
“Ditawar segitu memang saya untung, tapi tidak. Sudah, ini bukan niat dijual. Memang saya suka, jadi istilahnya tidak ada harganya,” tegas Bandyk Sutrisno yang kini berdomisili di Perum Grand Royal, Kelurahan Kedopok, Kecamatan Kedopok.
Bagi Bandyk, VW Kodok itu telah melampaui nilai materi.
Ia adalah simbol kebahagiaan, pengabdian pada sesuatu yang dicintai, dan teman setia yang menemani hari-harinya dengan penuh kebanggaan dan kenangan. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

