BPBD Kerahkan 114.000 Liter Air untuk Redam Kekeringan di Probolinggo
Musim kemarau datang, air bersih jadi barang rebutan. Untung masih ada BPBD yang keliling pakai tangki. Kalau tidak, mungkin warga belajar bertahan hidup pakai tutorial “minum embun tiap pagi”.
PROBOLINGGO, SJP — Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) di wilayah rawan.
Sebanyak 13 kecamatan masuk kategori siaga, termasuk Bantaran, Kuripan, Banyuanyar, Leces, Lumbang, Tegalsiwalan, Tiris, Wonomerto, Sukapura, Tongas, Paiton, Sumberasih, dan Gading.
Hingga awal Agustus 2025, BPBD telah menyalurkan air bersih ke puluhan lokasi terdampak. Total distribusi mencapai 114.000 liter untuk mengatasi krisis yang makin meluas.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Syarif, menyebut penyebaran bantuan menyasar titik-titik yang telah dipetakan rentan.
“Total ada 47 dusun dan sekolah yang berpotensi mengalami krisis air bersih,” jelasnya, Kamis (7/8/2025).
Permintaan air terbanyak berasal dari Desa Tulupari, Kecamatan Tiris; Desa Tegalsono dan Desa Bulujaran Kidul, Kecamatan Tegalsiwalan; serta Desa Liprak Kidul di Kecamatan Banyuanyar.
Desa Tigasan Wetan dan Desa Malasan Kulon di Kecamatan Leces juga termasuk lokasi distribusi rutin karena pasokan air warga tidak mencukupi kebutuhan harian.
“Dalam kurun 4 Juni hingga 6 Agustus 2025, kami telah mendistribusikan 114.000 liter air dengan kisaran 6.000–12.000 liter per titik,” tambah Oemar.
Selain kekeringan, BPBD juga meningkatkan sosialisasi pencegahan karhutla dengan mengedukasi warga untuk menjaga kebersihan lingkungan selama kemarau.
“Mari bersama-sama menjaga alam untuk meminimalisir risiko bencana,” pesannya.
Langkah antisipatif ini dinilai krusial untuk mengurangi dampak musim kering, terutama di kawasan rawan dan minim infrastruktur air bersih.
Peningkatan kesadaran publik dinilai kunci dalam mewujudkan ketahanan lingkungan dan adaptasi jangka panjang terhadap krisis iklim. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

