Rombongan Indonesia Walk for Peace 2026 Tiba di Surabaya, Bawa Misi Perdamaian dan Inspirasi Toleransi bagi Generasi Muda
Rombongan telah tiba di Denpasar sejak 7 Mei 2026 dan akan melintasi 10 kabupaten/kota di Jawa Timur selama 11 hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan dijadwalkan tiba di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026 untuk mengikuti rangkaian Waisak Nasional yang digelar pada 30 Mei mendatang.
SURABAYA, SJP - Sebanyak 57 bhikkhu (biksu) dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia tiba di Kota Surabaya dalam rangkaian Indonesia Walk for Peace (IWPF) 2026, Jumat (15/5/2026).
Perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur itu tak sekadar menjadi bagian dari persiapan Hari Raya Waisak Nasional 2026, tetapi juga membawa pesan kuat tentang perdamaian, persaudaraan lintas agama, serta inspirasi bagi generasi muda untuk terus merawat toleransi di tengah keberagaman.
Rombongan bhikkhu yang berjalan kaki membawa misi damai tersebut sebelumnya singgah di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur. Setelah itu, mereka disambut Pemerintah Kota Surabaya di Lobby Balai Kota Surabaya. Kehadiran para rohaniwan Buddha dari berbagai negara ASEAN itu menjadi simbol harmonisasi lintas budaya dan agama yang tumbuh di Indonesia, khususnya Kota Pahlawan.
Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace Jawa Timur, Irwan Pontoh, menjelaskan bahwa rombongan terdiri atas 57 bhikkhu, yakni 43 bhikkhu dari Thailand, empat dari Malaysia, tiga dari Laos, dan tujuh bhikkhu dari Indonesia. Dalam agenda di Surabaya, para bhikkhu berjalan kaki dari kawasan Panjang Jiwo menuju Balai Kota Surabaya dengan waktu tempuh sekitar satu jam 15 menit.
"Kami cukup terkejut sekaligus kagum. Rute yang biasanya ditempuh menggunakan kendaraan itu, pagi ini berhasil dilalui para bhikkhu dengan berjalan kaki secara lancar dan penuh semangat," kata Irwan, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, rombongan telah tiba di Denpasar sejak 7 Mei 2026 dan akan melintasi 10 kabupaten/kota di Jawa Timur selama 11 hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan Candi Borobudur. Mereka dijadwalkan tiba di Borobudur pada 28 Mei 2026 untuk mengikuti rangkaian Waisak Nasional yang digelar pada 30 Mei mendatang.
Menurut Irwan, sambutan masyarakat selama perjalanan menjadi energi tersendiri bagi para bhikkhu. Dukungan datang dari berbagai kalangan, mulai anak-anak, pedagang kecil, tokoh agama, hingga masyarakat lintas iman yang menyapa dan membantu kebutuhan perjalanan mereka.
"Hal ini menjadi potret nyata keharmonisan dan persaudaraan masyarakat Indonesia," ujarnya.
Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Staf Ahli Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan Dedik Irianto menyampaikan bahwa kehadiran rombongan bhikkhu menjadi kehormatan bagi Kota Pahlawan.
Menurutnya, perjalanan damai tersebut bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang membawa pesan kemanusiaan sangat penting bagi masyarakat.
"Atas nama Pemerintah Kota Surabaya dan seluruh warga Kota Surabaya, saya mengucapkan selamat datang kepada para bhikkhu dan seluruh peserta perjalanan damai," ujar Dedik.
Ia menilai, nilai-nilai yang dibawa para bhikkhu seperti kesederhanaan, disiplin, ketekunan, dan cinta kasih menjadi pesan moral yang relevan bagi masyarakat modern, khususnya generasi muda.
Di tengah derasnya arus perbedaan dan dinamika sosial, kegiatan tersebut dinilai mampu menjadi pengingat pentingnya menjaga harmoni dan persaudaraan antarumat beragama maupun antarbangsa.
Dedik menegaskan bahwa Surabaya yang dibangun dengan semangat gotong royong dan kebhinekaan percaya bahwa perdamaian harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
"Kehadiran saudara-saudara sekalian membawa pesan yang sangat mulia tentang perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan," katanya.
Sementara itu, Ketua rombongan bhikkhu, Bhante Phanarin Sumetho dari Thailand, mengatakan bahwa Indonesia Walk for Peace bertujuan membangun perdamaian antarumat beragama dan antarnegara di kawasan ASEAN, khususnya Thailand, Indonesia, Laos, dan Malaysia.
“Harapannya melalui kegiatan ini dapat terjalin persatuan, kasih sayang, dan persaudaraan,” kata Bhante Phanarin.
Ia menegaskan, para bhikkhu tidak berjalan untuk mencari keuntungan duniawi, melainkan untuk menyebarkan nilai kebajikan dan kepedulian antarsesama manusia. Dalam perjalanan sejauh 40 hingga 50 kilometer setiap hari, para bhikkhu kerap menghadapi rasa lelah dan sakit. Namun sambutan hangat masyarakat Indonesia menjadi kekuatan besar untuk terus melangkah menuju Borobudur.
Bhante Phanarin juga mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat lintas agama yang memberikan dukungan sepanjang perjalanan. Baginya, kebersamaan tersebut menjadi bukti bahwa toleransi dan persaudaraan masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Indonesia.
"Kebahagiaan itu terlihat jelas sepanjang perjalanan," ujarnya.
Selain disambut Pemerintah Kota Surabaya, rombongan bhikkhu juga melakukan audiensi dengan Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo. Pertemuan itu menjadi bagian dari semangat dialog lintas agama yang terus dibangun selama perjalanan damai berlangsung.
Ketua Panitia Indonesian Walk for Peace 2026, Dr Tosin, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang membawa pesan universal tentang kedamaian.
"Kami ingin memperkuat persahabatan lintas iman dan budaya," katanya.
Sekretaris Keuskupan Surabaya Romo Agustinus Hutrin SVD menambahkan bahwa Uskup Agustinus menyambut gembira kedatangan para pemuka agama Buddha dari berbagai negara. Menurutnya, keterbukaan dan semangat persaudaraan menjadi fondasi penting dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.
Indonesian Walk for Peace 2026 sendiri merupakan adaptasi dari tradisi Thudong dalam Buddhisme Theravada, yakni praktik berjalan kaki jarak jauh sebagai bentuk latihan spiritual, kesederhanaan, dan ketekunan.
Sebagai informasi, perjalanan tersebut dimulai dari Brahmavihara Arama, Buleleng, Bali, pada 9 Mei 2026 dan dijadwalkan berakhir di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026 dalam rangka memperingati Waisak 2570 BE. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

