Terdesak Biaya Semester Anak, Pencuri di Mojokerto Kirim Surat Minta Maaf ke Korban

Aksi tak lazim ini viral setelah pelaku mengaku nekat mencuri demi membiayai sekolah anaknya yang terancam tidak bisa mengikuti ujian.

12 Jun 2026 - 09:30
Terdesak Biaya Semester Anak, Pencuri di Mojokerto Kirim Surat Minta Maaf ke Korban
Isi sepucuk surat yang dikirim oleh pelaku pencurian kepada pemilik toko di Mojokerto. (Foto: Istimewa)

MOJOKERTO, SJP — Sebuah peristiwa yang mengundang rasa haru sekaligus menyita perhatian publik terjadi di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Seorang pelaku pencurian yang sempat tertangkap basah oleh warga, mengirimkan secarik surat berisi permohonan maaf yang mendalam kepada korbannya. 

Aksi tak lazim ini viral setelah pelaku mengaku nekat mencuri demi membiayai sekolah anaknya yang terancam tidak bisa mengikuti ujian.

Peristiwa ini menimpa sebuah toko kelontong milik Alfin Setyo Tunggal (33), seorang warga yang tinggal di Desa Jabon Tegal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Aksi pencurian ini bermula ketika seorang pria asing menyatroni toko kelontong sekaligus rumah milik Alfin. 

Namun, tindakan pelaku tidak berjalan mulus. Pemilik toko yang saat itu berada di lokasi langsung menaruh curiga dengan gerak-gerik pria bermasker tersebut.

Alfin menceritakan bahwa pelaku terlihat kebingungan dan berulang kali keluar masuk ke dalam area rumah dan tokonya. Merasa ada yang tidak beres, Alfin berinisiatif untuk mendekati dan langsung mengamankan pria tersebut.

"Saya curiga karena dia (pelaku) keluar masuk rumah saya tanpa izin," ujar Alfin saat memberikan keterangan kepada media, Rabu (10/6/2026).

Saat dilakukan penggeledahan di tempat, Alfin menemukan sejumlah bungkus rokok dan uang tunai sebesar Rp352.000 yang sudah berada di tangan pelaku dan siap untuk dibawa kabur.

Mendengar ada penangkapan pencuri, warga sekitar langsung berdatangan ke lokasi kejadian. 

Suasana sempat memanas ketika beberapa warga yang tersulut emosi memberikan hadiah pukulan dan tendangan kepada pelaku sebagai bentuk kekesalan mereka.

Namun, amarah warga mereda setelah dilakukan interogasi singkat. Pelaku yang tampak ketakutan dan pasrah, berjanji mengembalikan seluruh barang dan uang yang telah ia ambil. 

Tersentuh oleh rasa kemanusiaan dan kondisi pelaku, Alfin bersama tokoh masyarakat setempat akhirnya sepakat untuk tidak membawa kasus ini ke jalur hukum dan memilih untuk melepaskan pria tersebut.

Cerita ternyata tidak berhenti sampai di situ. Kejutan besar justru datang keesokan harinya, Kamis pagi. Saat hendak membuka toko kelontongnya, Alfin terkejut menemukan sebuah amplop putih yang tergeletak di lantai area tokonya.

Ketika amplop tersebut dibuka, Alfin mendapati secarik kertas bergaris yang berisi tulisan tangan dari pelaku pencurian yang ia lepaskan sehari sebelumnya. 

Surat yang ditulis menggunakan kombinasi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia itu berisi pengakuan jujur yang menyayat hati.

"Mohon maaf pak, buk. Kulo kaet kerjo gaji digantung. Bapak/Ibu, ngapunten sengkata. (Mohon maaf pak, buk. Saya sejak kerja gaji digantung. Bapak/Ibu, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya). Saya kepepet pak buk, butuh uang nyari utangan gak ada buat bayar semester anak saya. Kalo gak bayar gak ikut (ujian). Uang bapak 352.000, saya gajian 2 minggu lagi saya kembalikan 400.000. Mohon maaf pak buk, sekolah anak saya gak bisa ditunda. Saya pertama kali mencuri. Saya gak bakal ulangi lagi."

Dalam surat tersebut, pelaku membeberkan alasan utama dirinya nekat berbuat kriminal. Ia mengaku merupakan seorang pekerja yang hak gajinya belum dibayarkan oleh tempatnya bekerja (gaji digantung). 

Di sisi lain, ia sudah mencari pinjaman ke berbagai tempat namun tidak mendapatkan hasil, sementara tenggat waktu pembayaran semester sekolah anaknya sudah sangat mendesak.

Selain memohon maaf, di akhir suratnya pelaku juga menunjukkan iktikad baik yang luar biasa. 

Ia berjanji akan mendatangi kembali toko Alfin dalam waktu dua pekan ke depan setelah menerima gaji untuk mengembalikan uang yang sempat ingin dicurinya sebesar Rp352.000, bahkan berniat melebihkannya menjadi Rp400.000 sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Hingga berita ini diturunkan, kisah kebesaran hati pemilik toko yang memaafkan pelaku, serta kejujuran pelaku yang terdesak ruang hidupnya ini, menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Mojokerto sebagai pengingat akan pentingnya rasa empati di tengah masa-masa sulit. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow