Bazar Tani Vol. 4 Jadi Jembatan Petani Perkotaan dan Warga Surabaya Wujudkan Ketahanan Pangan
Bazar itu menjadi wadah bagi kelompok tani untuk memasarkan hasil panen sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi pangan lokal yang sehat. Berbagai produk dijajakan, mulai dari sayuran segar, telur, hingga aneka olahan pangan dan minuman herbal.
SURABAYA, SJP – Menjadi petani tidak selalu harus memiliki sawah yang luas. Di Surabaya, banyak warga yang memanfaatkan lahan terbatas, halaman rumah, hingga gang-gang sempit di lingkungan permukiman untuk menanam sayuran dan memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Mereka adalah para pelaku pertanian perkotaan atau Urban Farming yang kembali berkumpul dalam Bazar Tani Vol. 4: DASANI (Dari Sayur Tani untuk Negeri) yang digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya di kawasan Car Free Day (CFD) Taman Bungkul.
Kegiatan itu menjadi ajang mempertemukan petani perkotaan dengan masyarakat secara langsung. Selain menjual hasil panen segar dan produk olahan, bazar tersebut juga menjadi sarana edukasi mengenai urban farming sekaligus upaya memperkuat ketahanan pangan di tengah kota.
Bazar Tani Vol. 4 merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya digelar DKPP Kota Surabaya bersama berbagai pihak untuk memperkenalkan kampung sayur dan hasil urban farming kepada masyarakat. Pada edisi kali ini, sebanyak tujuh kelompok tani dilibatkan dengan dukungan dari PT Petrokimia Gresik untuk memamerkan sekaligus menjual produk mereka kepada pengunjung CFD.
Nanik Sukristina, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya mengatakan, kegiatan tersebut diselenggarakan untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa pertanian tidak hanya tumbuh di pedesaan, tetapi juga berkembang di kawasan perkotaan melalui kampung-kampung sayur yang tersebar di Surabaya.
“Jadi Bazar Tani Vol. 4 ini kita selenggarakan untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa Kota Surabaya memiliki kampung sayur, jadi bukan hanya di pedesaan dan daerah, tetapi juga ada kampung sayur di Kota Surabaya,” ujar Nanik, saat dikonfirmasi pada Senin(8/6/2026).
Menurutnya, bazar itu menjadi wadah bagi kelompok tani untuk memasarkan hasil panen sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi pangan lokal yang sehat. Berbagai produk dijajakan, mulai dari sayuran segar, telur, hingga aneka olahan pangan dan minuman herbal.
"Dengan urban farming di Kota Surabaya kita bisa meningkatkan kesehatan masyarakat dan meningkatkan ketahanan pangan Kota Surabaya di tingkat keluarga," katanya.
Nanik mengaku sempat berkeliling mengunjungi stan para kelompok tani dan membeli sejumlah produk yang dijual, salah satunya pecel buatan para petani untuk dijadikan sarapan. Menurutnya, produk yang ditawarkan tidak hanya segar tetapi juga mendukung pola hidup sehat karena minim bahan tambahan.
"Saya tadi beli telur, sayuran, kemudian ada olahan makanan sehat, sampai jus yang semuanya original tanpa tambahan pengawet. Jadi itu yang kita butuhkan untuk kesehatan kita," tuturnya.
Ke depan, DKPP Kota Surabaya berharap kegiatan serupa dapat digelar dalam skala yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak kelompok tani dan kampung sayur dari berbagai wilayah di Surabaya.
"Harapan di volume berikutnya kita bisa lebih besar lagi, melibatkan seluruh kelompok tani, kalau perlu masing-masing kampung sayur di Kota Surabaya," ujarnya.
Kesuksesan penyelenggaraan Bazar Tani Vol. 4 juga tidak lepas dari peran mahasiswa magang yang ditempatkan di Divisi Marketing and Promotion Eduwisata Urban Farming Surabaya DKPP Kota Surabaya. Kelompok mahasiswa tersebut dibimbing oleh mentor Adi Candra dan Slaviyanti.
Tim mahasiswa terdiri atas Fajar Nur Rusli Agan Prasetyo dan Achmad Seswanto dari Universitas Wijaya Putra Program Studi Agribisnis, serta Salsalina Aprilia Br Ginting, Rakindra Putri Ardhini, Eunike Florentina Br Tarigan, Yona Leoni Br Simatupang, Jasmine Tifani Claudia Arisayu, Diana Intan Sari, Angelini Krisyandi Butar Butar, dan Erlinda Ophelia Dayanti dari UPN Veteran Jawa Timur Program Studi Agribisnis.
Ketua Panitia Bazar Tani Vol. 4, Fajar Nur Rusli Agan Prasetyo, menjelaskan bahwa kegiatan itu tidak hanya berorientasi pada penjualan produk pertanian, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan kelompok tani agar lebih memahami pasar dan kebutuhan konsumen.
“Kita mengadakan pasar tani ini sebagai salah satu bentuk dukungan ataupun upaya untuk meningkatkan penjualan hasil pertanian yang ada di Kota Surabaya,” ujarnya.
Selain menghadirkan bazar, panitia juga menyiapkan edukasi dan permainan interaktif yang bertujuan mengenalkan urban farming kepada masyarakat. Menurut Fajar, pendekatan tersebut penting agar masyarakat semakin memahami bahwa pertanian dapat dilakukan di lingkungan perkotaan dengan lahan yang terbatas.
"Nah, kami tidak hanya fokus pada penjualan. Pada event kali ini kami juga mengadakan edukasi dan games-games kecil sebagai sarana pengenalan soal urban farming dan ketahanan pangan,"katanya.
Fajar menjelaskan, sebagian besar kelompok tani yang terlibat merupakan warga biasa yang memanfaatkan waktu luang untuk bertani. Mereka didominasi ibu rumah tangga dan warga lanjut usia yang tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian.
"Rata-rata mulai dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah usia lanjut. Mereka tidak memiliki pendidikan di bidang pertanian, mereka hanya mengisi waktu luang mereka," ujarnya.
Melalui program pendampingan, mahasiswa tidak hanya membantu kelompok tani dalam bertani saja, melainkan juga proses branding, pembuatan brosur, video profil, hingga mempertemukan mereka dengan konsumen secara langsung agar memahami dinamika pasar.
"Kita menargetkan mereka langsung ke market secara langsung, jadi mereka bisa bertemu dengan konsumen dan tahu peluang pasar itu di mana serta persaingan pasar seperti apa," tuturnya.
Berbagai komoditas urban farming dijual dalam bazar tersebut, mulai dari pakcoy, sawi pagoda, siomak atau selada wangi, hingga produk turunan seperti minuman sinom. Produk-produk tersebut sebagian besar berasal dari budidaya hidroponik yang dikenal memiliki kualitas baik.
"Produk dari hidroponik itu terkenal dengan kualitasnya lebih bagus, tetapi harga yang kami tawarkan tetap bersaing dengan pasaran," kata Fajar.
Meski sepanjang bazar peoduk tersebut dijual dengan harga pasaran, namun di akhir kegiatan, berbagai komoditas dijual dengan metode flash sale atau jual cepat dengan harga yang jauh lebih murah.
Disisi lain, dukungan terhadap penyelenggaraan Bazar Tani Vol. 4 juga datang dari PT Petrokimia Gresik. Perusahaan tersebut hadir tidak memberikan edukasi dan konsultasi kepada masyarakat terkait budidaya pertanian dan pemupukan.
Perwakilan PT Petrokimia Gresik, Muhammad Fajar Ismail, mengatakan kegiatan seperti Bazar Tani memiliki peran penting dalam mengubah cara pandang masyarakat kota terhadap dunia pertanian.
"Kegiatan ini sangat penting untuk memperkenalkan pertanian di kota, khususnya Kota Surabaya, dan bagaimana pentingnya bertani untuk menjaga ketahanan pangan," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Petrokimia Gresik membawa sekitar 24 produk yang terdiri atas pupuk organik, pupuk kimia, dan pupuk hayati yang disesuaikan dengan kebutuhan urban farming.
"Kami membawa kurang lebih 24 produk yang terdiri dari pupuk organik, pupuk kimia, dan pupuk hayati yang memang sesuai dengan pasar urban farming," katanya.
Menurut M. Fajar, Surabaya memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian perkotaan karena masih banyak lahan yang dapat dimanfaatkan menjadi area produktif.
"Kota Surabaya sangat punya potensi untuk urban farming, yang mana bisa memanfaatkan lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi produktif," tuturnya.
Ia berharap kolaborasi antara Petrokimia Gresik dan DKPP Kota Surabaya dapat terus berlanjut untuk memperluas edukasi pertanian kepada masyarakat kota.
"Harapannya ketahanan pangan ini memang tidak hanya berada pada desa, tetapi masyarakat yang ada di kota juga mengambil peran dalam ketahanan pangan," pungkasnya.
Melalui Bazar Tani Vol. 4, para petani perkotaan tidak hanya mendapatkan ruang untuk memasarkan hasil panennya, tetapi juga kesempatan untuk bertemu langsung dengan masyarakat. Di sisi lain, warga dapat melihat secara nyata bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan sekitar, bahkan dari lahan sempit di tengah padatnya kawasan perkotaan Surabaya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

