Wingko Lamongan Paling Diminati di Arus Balik 2026, Produksi Naik 1.000 Persen

Pada hari kerja normal, rumah produksinya hanya mengolah sekitar dua hingga tiga kilogram adonan. Namun, selama momentum arus balik ini, volume produksi dipacu hingga mencapai 25 kilogram per hari.

25 Mar 2026 - 08:00
Wingko Lamongan Paling Diminati di Arus Balik 2026, Produksi Naik 1.000 Persen
Produsen Wingko Lamongan. (Beritasatu.com)

LAMONGAN, SJP–Memasuki puncak arus balik Lebaran 2026, geliat ekonomi sektor kuliner di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Timur mengalami peningkatan signifikan. 

Kudapan tradisional Wingko Lamongan kembali mengukuhkan posisinya sebagai primadona buah tangan, memicu lonjakan produksi hingga sepuluh kali lipat guna memenuhi permintaan pemudik yang melintasi wilayah tersebut pada Selasa (24/3/2026).

Peningkatan arus kendaraan di jalur nasional Lamongan berkorelasi langsung dengan daya beli masyarakat terhadap produk lokal. 

Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah sentra oleh-oleh dipadati antrean kendaraan pemudik yang didominasi pelat nomor luar kota, seperti B (Jakarta) dan L (Surabaya).

Bambang Subirawan, pemilik usaha Wingko Sedap Mantab, membenarkan fenomena lonjakan ini. 

Ia mengungkapkan bahwa pada hari kerja normal, rumah produksinya hanya mengolah sekitar dua hingga tiga kilogram adonan. Namun, selama momentum arus balik ini, volume produksi dipacu hingga mencapai 25 kilogram per hari.

"Permintaan meningkat drastis. Meski kuantitas melonjak, kami tetap mempertahankan standar kualitas dengan proses pemanggangan tradisional menggunakan tungku selama 45 hingga 60 menit. Ini krusial untuk memastikan tingkat kematangan yang sempurna dan ketahanan produk," ujar Bambang saat ditemui di gerainya.

Meski pasar kuliner modern semakin kompetitif, Wingko Lamongan tetap relevan dengan diversifikasi rasa. Saat ini, produsen menawarkan berbagai varian seperti nangka dan durian. Namun, data penjualan menunjukkan bahwa varian ketan hitam tetap menjadi komoditas paling laku (best-seller) karena tekstur dan cita rasanya yang autentik.

Menariknya, pangsa pasar Wingko Lamongan kini tidak lagi terbatas pada pemudik domestik. Jalur Pantura yang merupakan urat nadi transportasi juga membawa wisatawan mancanegara, seperti dari Malaysia dan Thailand, yang mulai melirik kudapan berbahan dasar kelapa dan tepung ketan ini sebagai objek wisata kuliner.

Untuk mempermudah transaksi dan keterjangkauan, pelaku usaha menetapkan standarisasi harga. Satu kotak berisi 10 buah wingko dipatok seharga Rp27.000, berlaku seragam untuk semua varian rasa.

Efek ekonomi dari tren ini sangat masif, dengan estimasi peningkatan omzet mencapai 300% atau tiga kali lipat dibandingkan periode reguler. Loyalitas konsumen menjadi faktor kunci di balik angka tersebut.

Rohman, seorang pemudik asal Jakarta, menyatakan rela melakukan manuver putar balik di tengah padatnya lalu lintas hanya untuk mendapatkan wingko yang autentik.

"Saya sengaja memutar arah ke sini karena wingko ini sudah menjadi favorit keluarga. Rasanya khas dan memiliki daya tahan yang baik untuk dibawa perjalanan jauh ke Jakarta," ungkapnya.

Fenomena ini menegaskan bahwa kuliner tradisional memiliki resiliensi yang kuat di tengah arus modernisasi. Momentum Lebaran bukan sekadar rutinitas mudik, melainkan motor penggerak ekonomi bagi pelaku UMKM di daerah yang mampu menjaga kualitas dan kearifan lokal. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow