Jembatan Ambruk, Petani Wonoboyo Bondowoso Terancam Jual Hasil Panen ke Situbondo

Ambruknya jembatan Wonoboyo–Leprak berdampak serius pada ekonomi warga, khususnya petani jagung. Warga bergotong royong membangun jembatan darurat, sementara pemerintah daerah didesak segera melakukan penanganan agar distribusi hasil panen tidak terhambat.

14 Jan 2026 - 13:00
Jembatan Ambruk, Petani Wonoboyo Bondowoso Terancam Jual Hasil Panen ke Situbondo
Jajaran Pemdes Wonoboyo usai membangun jembatan alternatif, pasca jembatan penghubung Desa Wonoboyo dan Leprak ambruk dihantam banjir (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Ambruknya jembatan penghubung Desa Wonoboyo dan Desa Leprak tidak hanya memutus akses transportasi warga, namun juga mulai berdampak serius terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya para petani jagung yang sebentar lagi memasuki masa panen.

Saat ini, Warga Desa Wonoboyo bersama warga Desa Leprak, Kecamatan Klabang, bergotong royong membangun jembatan sementara dari material kayu. Jembatan darurat tersebut menjadi satu-satunya akses alternatif menuju wilayah Kabupaten Bondowoso setelah jembatan utama runtuh diterjang banjir.

Namun, keterbatasan daya dukung jembatan sementara membuat akses tersebut hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Kondisi ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi petani, mengingat hasil panen jagung membutuhkan kendaraan roda empat untuk distribusi dalam jumlah besar.

Kepala Desa Wonoboyo Hj Tubaini mengungkapkan, apabila kondisi ini terus berlarut, besar kemungkinan hasil panen jagung warga tidak akan dijual ke Bondowoso, melainkan ke wilayah Kabupaten Situbondo.

“Karena akses satu-satunya menuju Bondowoso untuk kendaraan roda empat harus memutar lewat Desa Rajekwesi Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo. Jarak tempuhnya bisa mencapai 2,5 sampai 3 jam, dengan kondisi jalan yang juga rusak,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, waktu tempuh normal menuju Bondowoso yang biasanya relatif singkat kini membengkak hingga satu setengah jam hanya untuk mencapai jalur alternatif di Situbondo. Hal ini dinilai tidak efisien dan menambah biaya operasional petani.

“Kami khawatir petani akan memilih menjual jagung ke Situbondo karena lebih realistis secara akses, meskipun harga jual bisa berbeda. Ini tentu merugikan warga Wonoboyo,” tambahnya.

Atas kondisi tersebut, Kepala Desa Wonoboyo mewakili masyarakat berharap agar pemerintah daerah segera mengintervensi melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) guna penanganan darurat jembatan.

“Kami berharap jembatan ini segera ditangani melalui anggaran BTT, agar warga yang sebentar lagi panen jagung bisa kembali menjual hasil panennya ke Bondowoso,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bondowoso, Kristanto Putro Prasojo, dalam keterangan resminya menegaskan pihaknya telah melakukan asesmen dan melaporkan kondisi tersebut kepada pimpinan serta OPD terkait untuk ditindaklanjuti.

“Kami memahami dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Saat ini BPBD telah melakukan pengamanan lokasi, asesmen, dan koordinasi lintas sektor untuk langkah penanganan selanjutnya,” kata Kristanto.

Ia juga mengimbau masyarakat tetap berhati-hati saat melintasi jembatan darurat, terutama saat hujan turun, karena kondisi tanah di sekitar sungai masih rawan tergerus.

“Keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama sambil menunggu penanganan lebih lanjut dari pemerintah daerah,” pungkasnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow