UMKM dan Investasi Jadi Penggerak Utama Ekosistem Keuangan OJK Malang
Farid Faletehan menegaskan UMKM dan investasi menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah dalam siaran pers OJK Malang di Latar Ijen, Kota Malang.
MALANG, SJP — Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pertumbuhan investasi menjadi motor utama penguatan ekosistem keuangan di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang sepanjang 2025. Keduanya tumbuh beriringan dengan stabilitas sistem keuangan regional yang tetap terjaga.
Peningkatan pembiayaan sektor produktif dan bertambahnya jumlah investor di pasar modal menunjukkan arah ekonomi Malang Raya, Pasuruan, dan Probolinggo semakin inklusif dan resilien terhadap dinamika global.
“UMKM dan investasi kini menjadi penggerak ekonomi daerah. Kami ingin memastikan keduanya tumbuh sehat, berkelanjutan, serta terlindungi terbukti dari persentase yang kami paparkan,” ujar Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, Kamis (9/10/2025).
Berdasarkan data OJK, kredit UMKM hingga Agustus 2025 mencapai Rp36,92 triliun atau 33,9 persen dari total penyaluran kredit di wilayah kerja OJK Malang yang tercatat Rp108,82 triliun, naik 9,53 persen year on year (yoy).
Sebaran tertinggi terjadi di Kabupaten Malang sebesar Rp30,45 triliun, disusul Kota Malang Rp28,89 triliun, dan Kota Probolinggo Rp10,66 triliun yang mencatat lonjakan tertinggi mencapai 33,31 persen yoy.
Farid menjelaskan, peningkatan pembiayaan ini menandakan kepercayaan lembaga keuangan terhadap pelaku usaha lokal terus menguat.
“Pertumbuhan kredit UMKM yang konsisten menunjukkan produktivitas ekonomi daerah terjaga dengan baik. Ini adalah fondasi penting bagi kestabilan sektor keuangan regional,” terangnya.
Sementara di sisi investasi, jumlah investor pasar modal di wilayah kerja OJK Malang tumbuh 19,15 persen yoy menjadi 341.834 investor, dengan frekuensi transaksi saham naik 59,23 persen dan nilai transaksi mencapai Rp3,32 triliun.
Kenaikan ini disokong oleh meningkatnya partisipasi investor individu muda, terutama dari kalangan mahasiswa dan profesional awal karier.
Pertumbuhan nasabah reksa dana juga meningkat 36,05 persen, dengan nilai penjualan melonjak 43,17 persen menjadi Rp410 miliar.
Tren tersebut menunjukkan pergeseran perilaku keuangan masyarakat dari konsumtif menuju produktif melalui instrumen investasi yang legal dan aman.
“Ekosistem keuangan yang inklusif ini mencerminkan keberhasilan sinergi antara pembiayaan produktif seperti UMKM dengan investasi yang sehat. Keduanya saling memperkuat,” imbuh Farid. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

