TPA Benowo Terbakar, WALHI Jatim Sebut Ada Kegagalan Pengelolaan Sampah

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur menilai peristiwa tersebut bukan sekadar insiden biasa, melainkan dampak dari ketergantungan pada solusi instan yang berisiko tinggi.

21 Jul 2026 - 16:00
TPA Benowo Terbakar, WALHI Jatim Sebut Ada Kegagalan Pengelolaan Sampah
Petugas saat memadamkan api. (Istimewa)

SURABAYA, SJP–Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo di Kota Surabaya pada Senin (20/7/2026) menjadi bukti kegagalan tata kelola sampah di Jawa Timur. 

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur menilai peristiwa tersebut bukan sekadar insiden biasa, melainkan dampak dari ketergantungan pada solusi instan yang berisiko tinggi.

Api mulai membakar TPA Benowo sejak pukul 18.49 WIB hingga baru berhasil dikuasai sekitar pukul 23.58 WIB. Kebakaran ini membumihanguskan lahan tumpukan sampah seluas 900 meter persegi di Blok 1B, dari total luas kawasan TPA yang mencapai 10 hektare.

Padahal, TPA Benowo merupakan salah satu proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) terbesar di Indonesia yang dirancang untuk mengolah 1.000 hingga 1.600 ton sampah warga Surabaya per hari.

Peristiwa di TPA Benowo menambah daftar TPA yang terbakar di Jawa Timur. Belum genap satu bulan sebelumnya, TPA Pakusari di Kabupaten Jember juga terbakar pada 4 Juli 2026 dan menghanguskan area seluas 500 meter persegi.

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Timur, Pradipta Indra Ariono, menegaskan bahwa kebakaran berulang ini disebabkan oleh masih digunakannya sistem penumpukan terbuka (open dumping). Sistem ini menghasilkan gas metana yang sangat mudah terbakar, terutama saat cuaca panas ekstrem.

"Pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Timur wajib mengelola sampah dengan benar sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008. Fokusnya tidak boleh hanya mengurusi sampah yang sudah menumpuk, tetapi harus menghentikan sistem open dumping dan memangkas sampah langsung dari sumbernya," tegas Pradipta.

WALHI Jatim menilai kehadiran teknologi pembakaran sampah seperti PLTSa belum mampu menyelesaikan persoalan mendasar. Keberadaan PLTSa terbukti tidak menghentikan gunungan sampah yang terus masuk setiap hari, sehingga risiko bencana ekologis tetap mengintai masyarakat sekitar.

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Jawa Timur, Lucky Wahyu, menekankan bahwa krisis sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan fasilitas berteknologi tinggi.

"Kebakaran TPA Benowo adalah alarm keras. Selama pola pikir pemerintah hanya membuang dan membakar sampah, risiko kebakaran dan pencemaran udara akan terus berulang. Akar masalahnya ada pada melimpahnya produksi sampah dan lemahnya aturan pengurangan sampah di tingkat rumah tangga maupun industri," ujar Lucky.

Atas rentetan insiden ini, WALHI Jawa Timur mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengambil langkah tegas.

Pertama adalah evaluasi seluruh TPA, memeriksa kembali operasional seluruh TPA di Jawa Timur yang masih menerapkan sistem penumpukan terbuka (open dumping).

Kedua WALHI mendesak agar dihentikan solusi palsu, tidak hanya berfokus pada penanganan di akhir (hilir), tetapi membenahi tata kelola dari awal (hulu).

Selanjutnya adalab aksi nyata di hulu, membatasi penggunaan plastik sekali pakai, mewajibkan pemilahan sampah dari rumah, memperkuat bank sampah, menggalakkan pengomposan, serta menuntut tanggung jawab produsen atas sampah produk mereka. (**) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow