Tingkat Kunjungan Wisata Trenggalek Turun 14 Persen di 2025, Cuaca dan Destinasi Baru Jadi Faktor Utama
Meski terjadi penurunan, destinasi wisata pantai di Trenggalek masih menjadi magnet utama wisatawan. Sepanjang 2025, Pantai Mutiara di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, masih mencatat kunjungan tertinggi.
TRENGGALEK, SJP - Tingkat kunjungan wisatawan ke Kabupaten Trenggalek sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan cukup signifikan. Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, total pergerakan wisatawan tercatat menurun sekitar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pemasaran Wisata Disparbud Trenggalek, Bambang Supriyadi, mengatakan bahwa pada tahun 2025 pihaknya mengidentifikasi dua indikator utama, yakni kunjungan ke destinasi wisata dan tingkat hunian hotel.
“Untuk tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi wisata tercatat sebanyak 900.437 orang, sementara wisatawan yang menginap di hotel sebanyak 55.292 orang. Secara keseluruhan, total pergerakan wisatawan yang terdata mencapai 955.729 orang,” kata Bambang, Selasa (6/1/2026).
Jumlah tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2024. Pada tahun lalu, kunjungan wisatawan ke destinasi wisata mencapai 1.054.191 orang, ditambah wisatawan hotel sebanyak 62.276 orang, sehingga total pergerakan wisatawan mencapai 1.116.467 orang.
“Kalau kita hitung, penurunannya sekitar 160.738 orang atau kurang lebih 14 persen dibandingkan tahun 2024,” jelasnya.
Meski terjadi penurunan, Bambang menegaskan bahwa destinasi wisata pantai di Trenggalek masih menjadi magnet utama wisatawan. Sepanjang 2025, Pantai Mutiara di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, masih mencatat kunjungan tertinggi.
“Pantai Mutiara pada tahun 2025 dikunjungi 360.084 orang. Angka ini memang turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 445.743 orang, tetapi tetap menjadi yang tertinggi,” ujarnya.
Posisi kedua ditempati Pantai Pasir Putih Karanggongso dengan jumlah kunjungan 310.273 orang pada 2025. Pada tahun sebelumnya, pantai ini dikunjungi 387.139 orang.
“Jadi penurunan itu tidak hanya terjadi di satu destinasi, hampir merata,” imbuh Bambang.
Berdasarkan data Disparbud, lonjakan kunjungan wisatawan pada 2025 terjadi pada momen-momen libur panjang dan hari besar keagamaan.
“Puncak kunjungan terjadi pada bulan April, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri, dengan total 113.767 pengunjung. Kemudian bulan Desember saat libur Natal dan Tahun Baru mencapai 126.777 pengunjung,” jelasnya.
Selain itu, bulan Juni dan Juli juga mencatat angka kunjungan yang relatif tinggi karena bertepatan dengan musim libur sekolah.
“Memang ada korelasi yang kuat antara puncak kunjungan dengan momen libur panjang,” tambahnya.
Bambang menyebut ada beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan kunjungan wisata di Trenggalek pada 2025. Faktor pertama adalah kondisi cuaca ekstrem.
“Musim penghujan di Trenggalek pada tahun 2025 ini berlangsung hampir sepanjang tahun. Itu sangat berpengaruh terhadap pergerakan wisatawan, terutama ke destinasi pantai,” terangnya.
Faktor kedua adalah terbukanya Jalur Lintas Selatan (JLS) di wilayah Tulungagung dan Blitar yang menghadirkan banyak destinasi wisata baru.
“Destinasi di sepanjang JLS Tulungagung dan Blitar itu masih baru dan sedang ramai-ramainya. Banyak wisatawan yang penasaran dan memilih berkunjung ke sana,” kata Bambang.
Selain itu, persaingan antar daerah dalam menghadirkan destinasi wisata baru juga semakin ketat, terutama wisata buatan yang dikelola pihak swasta.
“Di daerah lain banyak bermunculan destinasi baru yang lebih variatif. Sementara di Trenggalek, destinasi baru belum terlalu banyak, sehingga sebagian wisatawan memilih mencari pengalaman baru ke daerah lain,” jelasnya.
Di tengah tren penurunan, Pantai Kebo di Kecamatan Munjungan justru menunjukkan peningkatan kunjungan yang signifikan. Destinasi yang dikenal sebagai lokasi camping tersebut semakin populer di kalangan wisatawan.
“Tahun 2025, Pantai Kebo dikunjungi 37.640 orang, padahal pada tahun 2024 hanya 7.451 orang,” ungkap Bambang.
Menurutnya, wisatawan yang datang ke Pantai Kebo rata-rata berasal dari luar kota dan memilih untuk menginap.
“Meski akses jalannya masih cukup ekstrem dan belum tertata maksimal, itu tidak menyurutkan minat wisatawan. Ke depan, kami berharap ada dukungan untuk peningkatan akses agar potensi Pantai Kebo bisa berkembang lebih optimal,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

