Bukan Susu Kedelai, Ini Penyebab Keracunan Massal MBG di Bondowoso

Kasus keracunan massal menu Makan Bergizi Gratis di Bondowoso dipastikan bukan akibat susu kedelai, melainkan menu sayuran yang mengandung nitrit berlebih.

06 Jan 2026 - 19:17
Bukan Susu Kedelai, Ini Penyebab Keracunan Massal MBG di Bondowoso
Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi saat dikonfirmasi di ruang kerjanya (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Kasus dugaan keracunan massal yang sempat menghebohkan Kecamatan Sumberwringin beberapa waktu lalu akhirnya mulai menemukan titik terang. 

Puluhan siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disuplai Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Al Hidayah 3, Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin.

Awalnya, kecurigaan mengarah pada menu susu kedelai yang dibagikan kepada para siswa. Menindaklanjuti hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso langsung melakukan uji laboratorium terhadap seluruh sampel makanan yang disajikan pada hari kejadian.

Hasil pemeriksaan laboratorium pun mematahkan dugaan awal. Susu kedelai dipastikan bukan penyebab keracunan. Justru, menu tumis jagung labu yang terindikasi mengandung kadar nitrit melebihi ambang batas aman menjadi sumber utama masalah. 

Sementara bahan makanan lain memang mengandung senyawa serupa, namun masih dalam batas normal, sehingga tidak membahayakan jika dikonsumsi oleh penerima MBG.

Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi, menjelaskan, temuan tersebut berdasarkan laporan resmi hasil uji laboratorium Dinkes Bondowoso. Ia menegaskan, keracunan massal itu tidak berkaitan dengan susu kedelai yang dikonsumsi para korban.

“Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Bisa dari proses memasak bahan makanan yang tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP),” ujar Fathur saat dikonfirmasi di ruang kerjanya pada Selasa (6/1/2025).

Menurutnya, kemungkinan lain adalah proses pengolahan hingga pendistribusian makanan yang terlalu lama. Dalam SOP yang berlaku, nasi yang telah matang seharusnya didinginkan terlebih dahulu sebelum dikemas ke dalam ompreng. Jika dibungkus saat masih panas, kandungan dalam makanan bisa berubah dan berpotensi menimbulkan reaksi pada tubuh.

“Terutama jika kondisi tubuh penerima sedang tidak fit, dampaknya bisa langsung terasa,” imbuh mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Probolinggo ini.

Diketahui, kejadian tersebut terjadi di lima sekolah dengan total korban mencapai 77 orang, terdiri dari siswa dan guru. Padahal, SPPG Al Hidayah 3 sendiri melayani sekitar 59 sekolah dengan jumlah penerima manfaat kurang lebih 3.400 orang.

Menanggapi insiden ini, Sekda menyebut bahwa faktor utama adalah pengabaian SOP serta lamanya waktu distribusi makanan. 

“Informasi yang kami terima, sumbernya ada pada nasi dan sayur,” jelasnya.

Nantinya, Pemkab Bondowoso memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG yang beroperasi di wilayahnya agar kejadian serupa tidak terulang. Meski demikian, tidak ada sanksi yang dijatuhkan kepada SPPG Al Hidayah 3.

“SPPG Al Hidayah 3 sudah kembali beroperasi setelah sempat dihentikan sementara. Izin operasionalnya juga sudah diterbitkan kembali,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow