Tarif Trump Guncang Pasar Global, Akankah Hubungan Dagang Jawa Timur-AS Terancam Tekanan?

Ekspor-impor Jatim ke Amerika masih stabil di Februari 2025, jadi potret terakhir sebelum ketegangan tarif Trump diprediksi mengguncang jalur perdagangan global.

10 Apr 2025 - 20:16
Tarif Trump Guncang Pasar Global, Akankah Hubungan Dagang Jawa Timur-AS Terancam Tekanan?
Tarif resiprokal oleh Donald Trump yang diprediksi akan guncang pasar global termasuk pasar Jawa Timur (AP Photo/Mark Schiefelbein)

SURABAYA, SJP - Ketegangan dagang kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru yang agresif terhadap Tiongkok dan sejumlah negara mitra pada awal April 2025. 

Tarif "resiprokal" yang diberlakukan mencapai 125 persen terhadap Tiongkok, dan 10 persen terhadap negara lain, meskipun negara selain Tiongkok masih mendapatkan penundaan sementara selama 90 hari, namun hal tersebut bisa menimbulkan efek domino di pasar internasional.

Kebijakan ini memicu respons balasan dari Tiongkok, serta ancaman tarif lanjutan dari Uni Eropa dan negara-negara Amerika Latin. Saat ini, Indonesia belum masuk daftar negara terdampak langsung, namun jika kebijakan tersebut dilanjutkan maka pasar Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Timur bisa ikut terkoreksi.

"Februari dan Maret mungkin menjadi dua bulan terakhir yang mencerminkan kinerja perdagangan luar negeri sebelum dinamika pasar berubah drastis akibat kebijakan tarif ini," kata Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, Kamis (10/4/2025).

Amerika Serikat: Mitra Strategis Jawa Timur

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Amerika Serikat masih menjadi salah satu negara tujuan ekspor terbesar Jawa Timur pada Februari 2025, bersama Tiongkok dan Jepang. Komoditas unggulan yang dikirim ke AS meliputi:

Perhiasan dari logam mulia

  • Katoda tembaga
  • Pakaian jadi
  • Produk elektronik dan olahan makanan

Dari sisi impor, Amerika Serikat juga berada di daftar tiga besar mitra utama Jawa Timur. Barang-barang yang diimpor dari AS mencakup:

  • Mesin dan peralatan industri
  • Bahan baku kimia
  • Teknologi tinggi dan barang modal

"Hubungan dagang antara Jatim dan Amerika bukan satu arah. Ekspor kita tinggi, tapi AS juga menjadi sumber penting bahan baku dan teknologi," jelas Zulkipli.

Peluang dan Risiko Setelah Tarif Berlaku

Jika Indonesia tetap berada di luar daftar negara kena tarif, maka pelaku ekspor Jatim justru memiliki peluang mengisi kekosongan pasokan yang ditinggalkan Tiongkok ke pasar AS. Namun sebaliknya, jika nantinya Indonesia turut terdampak, maka sektor ekspor bisa terganggu, terutama di komoditas padat karya dan bernilai tinggi seperti perhiasan dan tekstil.

Saat ini, ekspor nonmigas Jatim ke seluruh dunia pada Februari mencapai US$2,02 miliar, dengan AS berkontribusi signifikan dalam portofolio tujuan. Di sisi lain, impor dari AS juga masuk dalam jajaran terbesar, terutama untuk kebutuhan industri dalam negeri.

IHSG Turun Tidak Langsung Berdampak ke Ekspor-Impor

Pasca pengumuman kebijakan tarif tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami koreksi tajam. Namun menurut Zulkipli, gejolak di pasar saham tidak serta-merta berdampak ke sektor riil perdagangan barang.

"IHSG turun tidak langsung berdampak ke ekspor-impor, karena perdagangan barang bekerja di mekanisme pasar berbeda," ujar Zulkipli.

Ia menambahkan bahwa ekspor-impor berada di ranah pasar fisik dan logistik, sedangkan IHSG lebih mencerminkan ekspektasi investor dan portofolio finansial jangka pendek. Jadi meski bisa saling mempengaruhi, namun pengaruh antara keduanya tergolong kecil.

Dengan kondisi global yang makin dinamis, pelaku usaha dan pemerintah daerah perlu mengantisipasi perubahan peta dagang internasional dalam beberapa bulan ke depan, khususnya terhadap pasar Amerika Serikat sebagai mitra strategis utama. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow