Ekspor Jatim Tembus US$2,09 Miliar Februari 2025, Tapi Neraca Perdagangan Masih Defisit
Ekspor Jatim naik 6,73% pada Februari 2025, jadi potret terakhir sebelum ketegangan dagang global pasca kebijakan tarif Trump mengguncang pasar internasional.
SURABAYA, SJP - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat nilai ekspor mencapai US$2,09 miliar pada Februari 2025. Angka tersebut meningkat sebesar 6,73 persen dibanding bulan sebelumnya, sekaligus menunjukkan pertumbuhan 15,64 persen dibanding Februari tahun lalu.
Kendati demikian, nilai impor masih lebih tinggi, yakni mencapai US$2,32 miliar, sehingga neraca perdagangan Jawa Timur kembali mengalami defisit sebesar US$234,09 juta.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa peningkatan ekspor ini menunjukkan optimisme sektor perdagangan luar negeri, namun tetap perlu dicermati karena defisit masih cukup dalam, khususnya dari sektor migas.
"Sektor nonmigas kita masih surplus, tapi defisit migas terlalu besar, sehingga neraca tetap negatif," ujar Zulkipli saat dikonfirmasi pada Kamis (10/4/2025).
Ekspor Nonmigas Menguat, Migas Naik Tajam tapi Masih Lemah
Rinciannya, ekspor nonmigas mencapai US$2,02 miliar, naik 4,15 persen secara bulanan dan 17,96 persen secara tahunan. Sementara ekspor migas tercatat sebesar US$63,21 juta, mengalami lonjakan hingga 416,30 persen dibanding Januari, meskipun secara tahunan masih turun 29,04 persen.
Komoditas utama penyumbang ekspor antara lain:
• Perhiasan dari logam mulia – terbesar, dengan kontribusi 12,86%
- Katoda tembaga murni
- Minyak mentah, yang sebagian besar dikirim ke Thailand
Impor Naik Tipis, Beban Masih di Migas
Sisi impor juga mencatat kenaikan. Nilai total impor naik 2,13 persen dari Januari, meskipun secara tahunan masih turun 3,30 persen, dengan rincian:
- Impor nonmigas: US$1,86 miliar (naik 2,42%)
- Impor migas: US$460,10 juta (naik 1,00%)
Kenaikan terbesar berasal dari bahan bakar motor (RON 90–97) dan emas batangan dari Hongkong. Namun secara neto, sektor migas mengalami defisit sebesar US$396,89 juta, menenggelamkan surplus sektor nonmigas sebesar US$162,80 juta.
Potret Terakhir Sebelum Dampak Tarif Global
Catatan Ekspor dan Impor oada bulan Februari dan Maret mungkin menjadi indikator terakhir situasi perdagangan luar negeri sebelum kebijakan tarif resiprokal diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump, pada awal April 2025. Kebijakan tersebut menaikkan tarif terhadap Tiongkok hingga 125% dan memicu gelombang tarif balasan dari berbagai negara.
Hal ini menimbulkan potensi guncangan baru bagi arus ekspor, khususnya dari provinsi seperti Jawa Timur yang menjadikan Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang sebagai pasar utama.
"Februari bisa jadi potret stabil terakhir, karena diprediksi ketegangan dagang akan meningkat," kata Zulkipli.
Pasar Saham Tidak Berpengaruh Langsung
Sementara itu, menanggapi kekhawatiran masyarakat terhadap anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini, Zulkipli menjelaskan bahwa pasar saham tidak berpengaruh langsung terhadap ekspor-impor, karena ekspor-impor berada di pasar barang riil.
"IHSG turun tidak langsung berdampak ke ekspor-impor, karena perdagangan barang bekerja di mekanisme pasar berbeda," tutup Zulkipli. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

