Surabaya Ubah Jadwal Angkut Sampah Jadi Malam Hari, Jawab Keluhan Truk Ganggu Aktivitas Siang
Selain mempercepat proses pengangkutan, kebijakan ini juga berdampak pada pengurangan penumpukan sampah dan bau tidak sedap, baik di TPS maupun selama perjalanan menuju TPA. Hal ini dinilai penting mengingat volume sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.600 ton setiap hari.
SURABAYA, SJP — Lalu lalang truk sampah di siang hari kerap menuai keluhan warga. Selain memperlambat arus lalu lintas, keberadaannya juga dinilai mengganggu aktivitas harian dan kenyamanan lingkungan. Menjawab kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kini mengambil langkah strategis dengan mengubah jadwal pengangkutan sampah menjadi malam hari.
Perubahan ini diberlakukan untuk pengangkutan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) menuju Tempat Penampungan Akhir (TPA) Benowo. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengurangi gangguan di jalan raya sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah di Kota Pahlawan.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan upaya untuk menjaga kelancaran aktivitas warga sekaligus memastikan kota tetap bersih.
"TPS bersih itu memberikan kebersihan di Kota Surabaya ya. Tidak mengganggu lalu lintas, karena kalau truk ke TPA pagi hari dan jam-jam sibuk maka akan mengganggu lalu lintas," ujar Eri, Kamis (16/4/2026).
Ia menambahkan, pengangkutan pada malam hari membuat perjalanan truk sampah lebih cepat karena kondisi lalu lintas yang cenderung lengang. Dengan demikian, distribusi sampah dari TPS ke TPA menjadi lebih optimal.
"Kalau malam hari, perjalanan lebih lancar," ungkapnya.
Selain mempercepat proses pengangkutan, kebijakan ini juga berdampak pada pengurangan penumpukan sampah dan bau tidak sedap, baik di TPS maupun selama perjalanan menuju TPA. Hal ini dinilai penting mengingat volume sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.600 ton setiap hari.
Tak hanya itu, perubahan jadwal ini juga membawa dampak positif dari sisi efisiensi operasional. Dengan kondisi jalan yang lebih lancar, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi lebih hemat dan beban kerja kendaraan pun berkurang.
"Kami bisa efisiensi terkait BBM. Keausannya mobil itu juga bisa ditekan," terang eri.
Eri menegaskan bahwa kelancaran operasional menjadi kunci utama dalam penghematan tersebut, sehingga kebijakan pengangkutan malam hari dinilai sebagai solusi yang tepat.
"Penggunaan BBM akan semakin berkurang karena operasionalnya lancar. Ini sesuai dengan program penghematan bahan bakar yang sekarang sedang dilakukan," jelasnya.
Melalui kebijakan ini, Pemkot Surabaya menargetkan kondisi kota yang lebih bersih pada pagi hari tanpa mengganggu ritme aktivitas warga yang berangkat kerja.
"Sehingga Surabaya semakin bersih di pagi hari, jadi pembuangannya tidak mengganggu ritme perjalanan kerja warga," terangnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, menyebut bahwa perubahan ini juga diikuti dengan penyesuaian sistem pengangkutan secara menyeluruh, termasuk menyesuaikan dengan volume sampah dan jam operasional.
"Semua sampah yang sekarang ada ini kita sesuaikan dengan jam operasional pengambilan. Ada ubah kultur pengambilan sampah di TPS supaya tidak terganggu," ucap Fikser.
Ia juga menegaskan bahwa TPS hanya diperuntukkan bagi sampah rumah tangga. Sedangkan sampah berukuran besar seperti sofa, kasur, dan lemari harus langsung dibuang ke TPA Benowo yang telah menyediakan tempat khusus.
"Di TPA ada tempatnya, sudah disiapkan untuk menaruh itu," ungkapnya.
Untuk memastikan kebijakan ini berjalan efektif, DLH Surabaya juga melakukan sosialisasi kepada pengurus RT/RW serta para penarik gerobak sampah, baik secara langsung maupun daring.
“DLH Surabaya melakukan sosialisasi melalui daring kepada pengurus RT/RW," tutup Fikser. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

