Skema Ekonomi Dulu, Ekologi Menyusul: Strategi Pemkot Batu Selamatkan Hutan Penyangga
Skema yang disiapkan Pemkot Batu menunjukkan pergeseran pendekatan konservasi yang lebih realistis dan berbasis kebutuhan lapangan. Dengan menjadikan kesejahteraan sebagai fondasi, program ini tidak hanya berpotensi menjaga kelestarian hutan, tetapi juga membangun kesadaran baru bahwa perlindungan lingkungan dan keuntungan ekonomi bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan bisa berjalan beriringan
KOTA BATU, SJP – Pemerintah Kota Batu mulai merumuskan pendekatan baru dalam menjaga kawasan hutan penyangga, dengan menempatkan kesejahteraan petani sebagai pintu masuk utama konservasi. Wali Kota Batu Nurochman menilai, upaya pelestarian tidak akan efektif tanpa menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada lahan hutan.
Wali Kota Batu Nurochman pada Jumat (10/4/2026) mengaku bahwa sebelumnya telah melakukan pertemuan bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Lestari Sejahtera dan mengemuka saat memaparkan rencana program jangka menengah 2026–2028 yang menyasar kawasan strategis di sekitar Tahura.
"Alih-alih pendekatan larangan, Pemkot Batu memilih skema transformatif melalui penerapan agroforestri. Sistem ini mengombinasikan tanaman kehutanan dengan komoditas bernilai ekonomi, sebagai upaya menekan risiko kerusakan lingkungan sekaligus menjaga pendapatan petani tetap stabil," urainya.
Orang nomor satu di Kota Batu itu menegaskan keseimbangan antara ekonomi dan ekologi menjadi kunci utama. Ia bahkan menetapkan proporsi yang cukup tegas dalam desain program tersebut.
Menurutnya apabila masyarakatnya kuat secara ekonomi, mereka akan dengan sendirinya menjaga hutan. Sehingga Pemkot Batu mengarahkan 60 persen untuk penguatan ekonomi, dan 40 persen tetap untuk fungsi ekologis.
"Implementasi program ini akan difokuskan pada tiga jalur utama. Pertama, reboisasi berbasis komoditas melalui penanaman alpukat, kopi, dan sukun di lahan miring seluas 650 hektare. Selain bernilai jual, tanaman tersebut juga berfungsi sebagai penahan erosi dan mitigasi longsor," imbuhnya.
Pria yang akrab disapa Cak Nur tersebut membeberkan hal ini juga dimaksudkan untuk penguatan rantai pasok dengan dukungan alat pasca-panen seperti mesin pemecah dan grinder kopi. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk petani, sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan mentah.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui edukasi intensif kepada 327 petani. Fokusnya membangun kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan hutan berbanding lurus dengan keberlanjutan ekonomi mereka.
"Namun demikian, Pemkot tidak ingin program ini berjalan tanpa kontrol. Kami akan menanggapi berbagai aspirasi, termasuk fluktuasi harga alpukat dan penataan penerima manfaat ditambah dengan komitmen bersama petani," tegasnya.
Ia bahkan membuka kemungkinan penerbitan regulasi khusus untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip konservasi. Pengawasan pun tidak hanya administratif, tetapi juga akan dilakukan langsung di lapangan.
Program ini juga akan melibatkan lebih dari 12 desa di wilayah penyangga, dengan harapan mampu mengubah pola tanam sayuran di lahan miring yang selama ini berisiko tinggi terhadap kerusakan lingkungan. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

