Rupiah Melemah, Omzet Penjualan Toko Suku Cadang Motor di Garum Blitar Menurun

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada usaha penjualan sparepart sepeda motor di Kabupaten Blitar. Kenaikan harga barang impor membuat sejumlah pedagang harus menyesuaikan harga jual, yang berimbas pada menurunnya transaksi pembelian dari konsumen.

09 Jun 2026 - 20:14
Rupiah Melemah, Omzet Penjualan Toko Suku Cadang Motor di Garum Blitar Menurun
Andri Siswanto, pelaku usaha sparepart asal Garum, Kabupaten Blitar. (Foto : Ninda Kinanti)

BLITAR, SJP - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada usaha penjualan suku cadang sepeda motor di Kabupaten Blitar.

Kenaikan harga barang impor membuat sejumlah pedagang harus menyesuaikan harga jual, yang berimbas pada menurunnya transaksi pembelian dari konsumen.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak tersebut adalah Andri Siswanto, pemilik toko suku cadang dan variasi motor di Kecamatan Garum. Menurutnya, sebagian besar produk yang dijual di tokonya berasal dari luar negeri sehingga sangat dipengaruhi oleh pergerakan kurs mata uang.

Andri mengungkapkan, sejak beberapa bulan terakhir harga berbagai jenis suku cadang mengalami kenaikan bertahap. Rata-rata kenaikan berada di kisaran 5 hingga 10 persen, terutama untuk komponen berbahan plastik, ban, dan oli.

"Sebagian besar barang yang saya jual merupakan produk impor. Saat nilai tukar rupiah melemah, harga dari distributor ikut naik sehingga kami juga harus menyesuaikan harga jual," ujarnya, Selasa (9/6/2026).

Kenaikan harga paling terasa terjadi pada ban sepeda motor. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp250 ribu per unit, kini harganya naik menjadi Rp265 ribu hingga Rp270 ribu.

Selain itu, harga oli juga mengalami lonjakan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Andri, kondisi tersebut membuat konsumen lebih berhati-hati dalam berbelanja. Banyak pelanggan yang kini hanya membeli kebutuhan yang benar-benar mendesak atau menunda penggantian komponen kendaraan.

"Daya beli masyarakat memang terlihat menurun. Penjualan masih berjalan, tetapi jumlah transaksinya tidak sebanyak sebelumnya," katanya.

Karena harga oli yang terus meningkat, Andri bahkan memilih untuk sementara tidak menambah stok produk tersebut. Ia lebih fokus menjual suku cadang dan variasi motor yang pergerakan penjualannya masih relatif stabil.

Di sisi lain, kenaikan harga juga dirasakan langsung oleh konsumen bernama Dedi, salah seorang pengguna sepeda motor, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk perawatan rutin kendaraannya.

Sebelumnya, ia mengeluarkan biaya sebesar Rp50 ribu untuk ganti oli dan sekarang bisa mencapai Rp70 ribu.

"Dulu ganti oli masih terjangkau, sekarang sekali servis terasa lebih berat di kantong. Semakin mahal harga oli, semakin besar kekhawatiran mendapatkan oli palsu atau tidak asli. Yang jelas sekarang mulai membandingkan merek, mencari promo, atau memilih interval penggantian yang lebih panjang guna mengatur pengeluaran," terang dia. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow