Sektor Pertanian Bojonegoro Geser Dominasi Migas

Data BPS menunjukkan sektor pertanian menjadi salah satu motor pertumbuhan utama dengan laju pertumbuhan mencapai 11,38 persen, didorong oleh peningkatan produksi padi dan jagung yang signifikan.

09 Jun 2026 - 19:44
Sektor Pertanian Bojonegoro Geser Dominasi Migas

BOJONEGORO, SJP – Kabupaten Bojonegoro mulai menata arah pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan dengan mengurangi ketergantungan pada sektor minyak dan gas bumi (migas). Di tengah menurunnya kinerja sektor pertambangan akibat lifting migas yang belum optimal, sejumlah sektor nonmigas justru menunjukkan pertumbuhan signifikan dan menjadi penopang utama perekonomian daerah.

Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan bahwa sektor pertambangan masih menjadi kontributor terbesar ekonomi Bojonegoro dengan porsi 42,03 persen. Sementara itu, 16 sektor lainnya telah menyumbang 57,97 persen, menandakan struktur ekonomi daerah mulai semakin beragam.

Secara nominal, PDRB Bojonegoro atas dasar harga berlaku pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai Rp28,44 triliun. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan sejumlah daerah sekitar seperti Lamongan yang mencatat Rp14,99 triliun, Nganjuk Rp10,57 triliun, dan Ngawi Rp7,43 triliun. Bahkan, posisi Bojonegoro masih di atas Tuban yang memiliki PDRB sebesar Rp25,43 triliun.

Besarnya nilai PDRB tersebut semakin mengukuhkan Bojonegoro sebagai salah satu penyangga kekuatan ekonomi Jawa Timur, meskipun tantangan transisi dari sektor migas terus menjadi perhatian pemerintah daerah.

Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, mengatakan bahwa perekonomian Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 secara tahunan (year-on-year) tumbuh positif sebesar 0,02 persen, sedangkan tanpa sektor pertambangan (Migas) tumbuh sebesar 7,34 persen. Angka ini menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan dibandingkan kondisi tahun 2023 yang sempat mengalami kontraksi hingga minus 3,49 persen.

Menurut Syawaluddin, pertumbuhan ekonomi tersebut berhasil dipertahankan meski sektor pertambangan mengalami penurunan akibat lifting migas yang belum maksimal.

“Pertanian tumbuh 11,38 persen. Ketika pertanian tumbuh tinggi, itulah yang menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif dan tidak kembali minus,” ujarnya.

Data BPS menunjukkan sektor pertanian menjadi salah satu motor pertumbuhan utama dengan laju pertumbuhan mencapai 11,38 persen, didorong oleh peningkatan produksi padi dan jagung yang signifikan.

Selain pertanian, sejumlah sektor lain juga mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Lapangan usaha Jasa Lainnya menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 14,77 persen, diikuti kelompok Lain-lain sebesar 14,93 persen, serta sektor Akomodasi dan Makan Minum yang tumbuh 11,37 persen.

Pertumbuhan sektor jasa tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas rekreasi, hiburan, dan kegiatan wisata yang semakin beragam di Bojonegoro. Sementara itu, sektor perdagangan tumbuh 6,46 persen, informasi dan komunikasi 7,73 persen, transportasi dan pergudangan 6,92 persen, serta jasa perusahaan 9,94 persen.

Program pemerintah pusat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mulai memberikan dampak ekonomi terhadap sektor penyediaan makanan dan minuman yang mengalami peningkatan aktivitas usaha.

Syawaluddin menilai pengalaman kontraksi ekonomi pada tahun 2023 menjadi pelajaran penting bagi Bojonegoro untuk tidak terlalu bergantung pada migas. Menurutnya, sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, dan berbagai sektor jasa memiliki daya tahan yang lebih baik karena manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi harus bergerak inklusif. Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bojonegoro karena manfaatnya dirasakan lebih luas dibandingkan sektor pertambangan,” tegasnya.

Dalam kawasan Gerbangkertosusila Plus (G+), Bojonegoro saat ini berada di posisi kesembilan dengan kontribusi sekitar 3,20 persen terhadap perekonomian Jawa Timur.

Kedepan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mendorong penguatan sektor-sektor nonmigas melalui peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan industri pengolahan, penguatan sektor jasa. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow