Pengrajin Tahu dan Tempe Terdampak oleh Melemahnya Rupiah, Pemerintah Kaji Pemberian Insentif

Rupiah catat rekor terendah Rp18.187 per dolar AS. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah masih mengkaji insentif untuk pengrajin tahu dan tempe.

09 Jun 2026 - 21:13
Pengrajin Tahu dan Tempe Terdampak oleh Melemahnya Rupiah, Pemerintah Kaji Pemberian Insentif
Pedagang tempe terdampak oleh melonjaknya harga kedelai, sebagai dampak melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. (Foto: beritasatu.com)

JAKARTA, SJP — Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut mulai berdampak pada peningkatan biaya produksi pelaku usaha kecil, khususnya para pedagang dan pengrajin tahu-tempe yang bergantung pada bahan baku kedelai impor. Kendati tekanan terhadap sektor riil meningkat akibat lonjakan harga bahan baku tersebut, pemerintah hingga kini belum menetapkan bentuk insentif khusus untuk membantu para pelaku usaha di sektor ini.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah saat ini masih mencermati perkembangan kondisi ekonomi nasional, terutama fluktuasi nilai tukar rupiah, sebelum mengambil langkah kebijakan lanjutan. 

Saat ditemui di Bappenas, Jakarta, Purbaya menjelaskan bahwa penguatan rupiah menjadi kunci utama untuk meredakan tekanan biaya produksi bagi para pelaku usaha pangan berbasis impor. 

"Nanti kita lihat seperti apa ke depan. Yang jelas kan kita harapkan rupiah bisa menguat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Itu saja," ujar Purbaya.

Mengenai langkah penstabilan mata uang, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kewenangan menjaga stabilitas nilai tukar sepenuhnya berada di bawah otoritas moneter Bank Indonesia (BI). 

Oleh karena itu, pemerintah menyerahkan mekanisme pasar dan stabilisasi kurs kepada bank sentral. "Kita serahkan semua ke bank sentral atau BI untuk menstabilkan nilai rupiah," kata Purbaya menambahkan.

Menurut Purbaya, stabilitas nilai tukar tidak hanya berdampak pada kelangsungan dunia usaha, melainkan juga memengaruhi daya beli masyarakat secara luas melalui stabilitas harga barang impor. 

Purbaya menekankan bahwa target pemerintah adalah memastikan indikator ekonomi makro dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. 

"Pemerintah tidak hanya ingin menjaga stabilitas indikator ekonomi makro. Pemerintah juga ingin manfaat stabilitas itu terasa langsung oleh masyarakat," ucapnya.

Hingga saat ini, pemerintah melalui kementerian terkait masih terus memantau perkembangan harga pangan serta daya tahan pelaku usaha mikro di berbagai daerah. Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup melemah 0,84 persen ke level Rp18.187 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di posisi Rp18.036. Rekor penutupan terendah sepanjang sejarah ini membuat formulasi kebijakan tambahan ataupun insentif bagi industri tahu-tempe masih terus digodok dan belum menemui keputusan final. (**)

sumber: Beritasatu.com

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow