Rupiah Melemah di Tengah Ketegangan Dagang Global

Rupiah melemah ke Rp16.333 per dolar AS pada 21 Juli 2025 akibat ketegangan dagang global yang dipicu kebijakan tarif Presiden Trump terhadap Uni Eropa. Pasar juga mencermati pertemuan ECB dan tekanan politik Trump terhadap The Fed.

21 Jul 2025 - 11:43
Rupiah Melemah di Tengah Ketegangan Dagang Global
Ilustrasi rupiah dan dolar AS.(Istimewa)

SUARAJATIMPOST.COM—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada awal perdagangan Senin, 21 Juli 2025. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi perdagangan internasional yang makin tegang akibat kebijakan Presiden AS, Donald Trump.

Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah di pasar spot turun sebesar 37 poin atau 0,23 persen ke level Rp16.333 per dolar AS pada pukul 09.30 WIB. Sebagai perbandingan, pada akhir perdagangan Jumat lalu (18 Juli 2025), rupiah ditutup menguat 44 poin ke posisi Rp16.296,5 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS masih berada di kisaran 98,48, menunjukkan kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia masih relatif stabil.

Mengacu pada laporan Financial Times, Presiden Trump sedang mendorong penerapan tarif impor baru terhadap produk dari Uni Eropa. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyatakan bahwa pemerintah AS masih membuka peluang untuk kesepakatan dagang dengan Uni Eropa, tetapi menegaskan bahwa batas waktu penerapan tarif tetap pada 1 Agustus.

Di pasar internasional, euro melemah 0,12 persen ke US$1,16, dan poundsterling berada di posisi US$1,13. Indeks dolar AS tercatat sedikit turun ke angka 98,352.

Fokus pasar global pekan ini tertuju pada pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan tidak akan mengubah tingkat suku bunga setelah sebelumnya beberapa kali diturunkan. Di saat yang sama, tekanan politik dari Presiden Trump terhadap bank sentral AS (The Fed) agar segera menurunkan suku bunga terus berlanjut.

Dikabarkan, Trump hampir memberhentikan Gubernur The Fed, Jerome Powell, namun rencana tersebut dibatalkan untuk mencegah gejolak di pasar keuangan. Saat ini, pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli, meski peluang penurunan suku bunga pada bulan Oktober mulai dipertimbangkan.

Di kawasan Asia, yen Jepang menguat pada Senin pagi setelah koalisi pemerintah Jepang kehilangan mayoritas di parlemen majelis tinggi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terkait potensi kebuntuan dalam pengambilan kebijakan serta ketidakpastian ekonomi, terutama menjelang tenggat waktu penerapan tarif baru oleh AS. Sementara itu, bursa saham Jepang tutup hari ini karena hari libur nasional.

Di sisi lain, dolar Selandia Baru terpantau melemah 0,18 persen ke level US$0,59, meskipun data inflasi kuartal kedua tahun ini menunjukkan kenaikan. Namun, angka tersebut masih di bawah harapan pasar, sehingga membuka kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Selandia Baru bulan depan akibat melambatnya aktivitas ekonomi domestik. (**)

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow