Pulihkan Psikis Korban Keracunan MBG, Pemkab Mojokerto Masifkan Trauma Healing
Meski penanganan pascakejadian terus digencarkan, Gus Barra mengakui adanya batasan kewenangan pemerintah daerah dalam mengintervensi teknis program MBG. Sebab, program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini secara struktural berada di bawah koordinasi langsung Badan Gizi Nasional (BGN).
MOJOKERTO, SJP — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto memperluas fokus penanganan pascainsiden keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melanda 411 korban.
Setelah penanganan medis dinyatakan tuntas, pemkab setempat kini memprioritaskan pemulihan psikis melalui program trauma healing bagi ratusan korban.
Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa, menegaskan bahwa atensi pemerintah tidak berhenti pada aspek kesehatan fisik semata.
Sebab, sambung dia, insiden yang dipicu konsumsi menu soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 tersebut meninggalkan dampak psikologis serius, terutama bagi kalangan siswa dan santri.
Bupati yang karib disapa Gus Barra ini mengungkapkan bahwa banyak korban yang kini mengalami ketakutan terhadap makanan tertentu.
"Masih menyisakan trauma mendalam bagi siswa, guru, hingga wali murid. Bahkan, laporan yang kami terima menunjukkan banyak anak yang masih enggan mengonsumsi nasi, terutama menu berkuah," ujar Gus Barra.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Mojokerto mengerahkan langkah strategis melalui kolaborasi antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Dibeber olehnya bahwa Dinas Kesehatan menjadi leading sector dalam pendampingan medis dan psikologis awal.
Sementara untuk Dinas Pendidikan, melibatkan psikolog untuk menangani kondisi mental siswa di lingkungan sekolah.
Menurut Gus Barra Tokoh Masyarakat dan Agama juga dilibatkan dalam pendekatan persuasif dan edukasi untuk membangun kembali kepercayaan penerima manfaat.
Meski penanganan pascakejadian terus digencarkan, Gus Barra mengakui adanya batasan kewenangan pemerintah daerah dalam mengintervensi teknis program MBG. Sebab, program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini secara struktural berada di bawah koordinasi langsung Badan Gizi Nasional (BGN).
Pemerintah daerah berkomitmen untuk memastikan lingkungan sekolah kembali menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi para siswa sebelum program distribusi makanan dilanjutkan secara normal.
"Terkait upaya menutup celah risiko, seperti larangan membawa pulang menu MBG melalui Surat Edaran (SE), kami masih harus mempelajari regulasinya lebih lanjut. Koordinasi harus tetap sinkron dengan BGN selaku pemegang otoritas pusat," pungkasnya.
Sebelumnya, sebanyak 411 korban keracunan soto ayam MBG di Kabupaten Mojokerto telah dinyatakan pulih dan tidak lagi menjalani perawatan. Dugaan penyebab keracunan adalah dari telur yang disajikan dalam menu soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Kabupaten Mojokerto. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

