Sepanjang 2025, Kasus Baru HIV/AIDS di Jombang Capai 280 dari Total Kumulatif 2.169 Orang
Semakin gencar upaya penemuan kasus, semakin tinggi pula kemungkinan terdeteksinya HIV, terutama pada individu yang sebelumnya tidak mengetahui statusnya.
JOMBANG, SJP — Sebanyak 280 kasus baru HIV/AIDS ditemukan di Kabupaten Jombang sepanjang tahun 2025. Meskipun angka ini menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang mengingatkan bahwa risiko penularan HIV masih nyata dan dapat terjadi pada siapa saja.
Kepala Dinkes Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menjelaskan bahwa jumlah kasus yang terdeteksi sangat bergantung pada seberapa aktif skrining dilakukan di masyarakat. Semakin gencar upaya penemuan kasus, semakin tinggi pula kemungkinan terdeteksinya HIV, terutama pada individu yang sebelumnya tidak mengetahui statusnya.
“Penurunan angka bukan berarti penularan menurun drastis. Bisa jadi karena cakupan skrining tidak seluas sebelumnya. Deteksi dini adalah kunci utama,” ujar dr Hexa dalam pesan diterima wartawan, Rabu (11/2/2026).
Berdasarkan data lima tahun terakhir, temuan kasus HIV tertinggi di Jombang terjadi pada 2023 dengan 332 kasus. Kemudian berturut-turut menurun menjadi 310 kasus (2024) dan 280 kasus (2025).
Dinkes Jombang menegaskan bahwa penanganan HIV harus mengedepankan prinsip kerahasiaan dan hak pasien. Identitas Orang dengan HIV (ODHIV) dilindungi undang-undang dan tidak boleh dipublikasikan. Fokus pemerintah saat ini adalah memperluas skrining dan memperkuat layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP).
Didominasi Pria Dewasa, Anak Juga Terdampak
Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Jombang Care Center (JCC) Plus, Fuad Abdillah, menyebutkan bahwa total kasus HIV/AIDS di Jombang secara kumulatif hingga Desember 2025 mencapai 2.169 orang. Dari jumlah itu, 250 kasus merupakan temuan baru berdasarkan pendataan internal KDS.
Profil temuan kasus baru menunjukkan dominasi pada pria dewasa (174 orang), disusul perempuan dewasa (71 orang). Sementara itu, sebanyak enam kasus ditemukan pada anak usia 0–18 tahun, terdiri dari lima laki-laki dan satu perempuan.
Dari sisi kelompok risiko, temuan terbanyak berasal dari Lelaki Seks Lelaki atau LSL (23,6%), diikuti Pelanggan Pekerja Seks (16,3%), dan Warga Pekerja Seks atau WPS (11,6%).
Namun Fuad menekankan bahwa data tersebut tidak boleh dijadikan alat stigmatisasi. Tingginya temuan di kelompok tertentu justru mencerminkan keberhasilan pendekatan dan layanan kesehatan yang menyasar mereka secara aktif.
“Ini bukan untuk memberi cap. Justru edukasi bahwa HIV bisa menimpa siapa pun. Stigma hanya akan membuat orang takut tes dan berobat,” tegas Fuad.
Dari sisi usia, kelompok produktif 25–49 tahun mendominasi temuan kasus dengan 170 orang. Hal ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas hidup masyarakat. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

