Programer dan Posyandu Jiwa Jadi Andalan Dinsos P3AKB Bondowoso Tangani ODGJ

Agar ODGJ tak lagi kambuh, harus terus mengonsumsi obat dari rumah sakit. Maka dari itu, programer dan posyandu jiwa diklaim menjadi wadah untuk tetap memantau eks psikotik

15 Jan 2025 - 22:31
Programer dan Posyandu Jiwa Jadi Andalan Dinsos P3AKB Bondowoso Tangani ODGJ
Posyandu jiwa di Desa Jetis, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso (foto : kusuma/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Kasus demi kasus yang berhubungan dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang membahayakan warga Bondowoso terus terjadi.

Terakhir, terjadi di Kecamatan Maesan. Seorang ODGJ melukai warga menggunakan parang atau senjata tajam (sajam), sehingga korban sempat dilarikan ke Pusat Kesehatan Masayarakat (Puskesmas). 

Sang ODGJ melukai korbannya dengan parang atau sajam sehingga menyebabkan luka robek 10 cm di wajah sebelah kanan, luka robek bahu kanan 5 cm, luka robek di telapak tangan kanan 4 cm dan di daerah punggung yang robek 10 cm.

Menanggapi hal tersebut, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Bondowoso berdalih jika pihaknya sudah berupaya untuk menangani masalah ODGJ tersebut. 

Dikatakan Kepala Dinsos P3AKB, Anisatul Hamidah, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) membentuk programer jiwa di setiap puskesmas. Di samping itu, ada pos pelayanan terpadu (posyandu) jiwa. 

"Bekerja sama juga dengan pihak Koramil dan polsek, seketika ada pengaduan tentang ODGJ mereka langsung bersama-sama untuk melakukan rujukan," jelasnya, Rabu (15/1/2025). 

Menurutnya, programer jiwa maupun posyandu jiwa yang dibentuk dengan bekerja sama dengan Dinkes ini, menjadi cara alternatif Dinsos P3AKB mengatasi permasalahan ODGJ di kabupaten yang pernah mendeklarasikan diri sebagai republik kopi ini. 

"Menjadi satu terapi yang bagus. Karena kami harus memastikan, pasien yang baru pulang dari paviliun seroja itu harus rutin meminum obatnya agar tak kambuh lagi," paparnya. 

Bahkan, menurutnya, pihaknya juga akan membentuk desa inklusi. Dimana di desa tersebut tercatat Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dan ODGJ yang angkanya tinggi. 

"Ada 5 desa yang akan dibentuk desa inklusi. Kami juga bekerjasama dengan salah satu yayasan, agar mereka bisa kita terus pantau dan memberdayakan mereka dalam perekonomiannya," pungkas Anis. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow