Program MBG di Jombang Dorong Peningkatan Transaksi hingga Rp600 Juta per Bulan
Progran MBG yang berjalan di Jombang memiliki potesi mendukung perputaran ekonomi sekitar.
JOMBANG, SJP—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) besutan Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki prospek yang bagus. Dengan melayani sekitar 3 ribu orang, nilai transaksi akan mencapai kurang lebih Rp600 juga per bulan.
Penilaian tersebut menyusul kehadiran Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PMK, Prof. Abdul Haris, di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, Kamis (17/7/2025).
Transaksi tersebut mengindikasikan adanya perputaran roda ekonomi di samping upaya peningkatan gizi para santri.
Lewat kolaborasi antara SPPG dengan badan usaha milik desa bersama (bumdesma) dan koperasi, ada transaksi sebagaimana catatan mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya.
“Hari ini kami meninjau langsung. Ternyata prospeknya sangat bagus. Dengan melayani sekitar 3.000 siswa, transaksi antara SPPG dan bumdesma mencapai kurang lebih Rp600 juta per bulan,” kata Abdul Haris saat kunjungan ke Denanyar, Kamis (17/7/2025).
Dia menyebut, kerja sama ini berawal dari inisiatif Menko PM Muhaimin Iskandar pada Desember 2024. Kala itu, Muhaimin mendorong terjalinnya kemitraan antara Bumdesma Sumobito Lancar Abadi dan SPPG Ponpes Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang.
Saat ini di SPPG Mambaul Ma’arif telah melayani 3.346 siswa yang terdiri dari 414 siswa MI, 1.487 siswa MTs, dan 1.445 siswa MAN. Menurut pengelola SPPG, Gus Umar, jumlah tersebut akan terus bertambah.
“Awal Agustus 2025 targetnya meningkat jadi 4.000 siswa," ucap Gus Umar.
Selain itu, pihaknya akan membuka satu unit SPPG baru di bawah naungan Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang. Sebuah lapangan kerja baru tercipta selama proses MBG berjalan di SPPG Denanyar.
Tercatat 47 tenaga kerja baru direkrut, dengan upah harian antara Rp100 ribu hingga Rp115 ribu. Ditambah satu kepala SPPG, satu ahli gizi, dan satu staf administrasi yang digaji langsung dari Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat.
Namun demikian, untuk pemenuhan bahan baku MBG dari masyarakat setempat belum mampu dipasok. Hal tersebut disampaikan oleh Ayu selaku pengurus Bumdesma Sumobito Lancar. Tantangan utama adalah memenuhi standar kualitas produk seperti telur dan buah-buahan.
“Produk lokal masih belum sepenuhnya memenuhi standar yang dibutuhkan untuk program MBG. Tapi kami terus berupaya memperbaiki kualitas. Mulai Juni 2025, Bumdesma Sumobito juga dipercaya menjadi penyuplai untuk SPPG Sumobito,” jelas Ayu.
Program MBG ini diharapkan bukan hanya memberi manfaat bagi santri, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi desa lewat penguatan kelembagaan lokal seperti Bumdes dan koperasi.
Abdul Haris menegaskan, inisiatif serupa akan terus diperluas di berbagai daerah lain sebagai bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat desa yang lebih merata. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

