Produsen Tahu di Blitar Putar Otak Hadapi Lonjakan Harga Kedelai

Harga kedelai yang terus naik membuat produsen tahu di Kota Blitar harus memutar otak agar tetap mendapatkan keuntungan.

08 Apr 2026 - 17:41
Produsen Tahu di Blitar Putar Otak Hadapi Lonjakan Harga Kedelai
Wahyu, salah satu produsen tahu di Kelurahan Pakunden, Kota Blitar. (Foto : Ninda Kinanti)

KOTA BLITAR, SJP - Kenaikan harga kedelai sejak menjelang Lebaran 2026 membawa dampak serius bagi pelaku usaha tahu di Kota Blitar. 

Para produsen kini harus memutar strategi agar usaha tetap berjalan di tengah biaya produksi yang terus membengkak.

Di sentra produksi tahu Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, para pelaku usaha mengaku berada dalam posisi sulit. Harga bahan baku utama yang terus naik tidak sebanding dengan harga jual tahu yang masih ditahan demi menjaga pelanggan.

Wahyu, salah seorang produsen tahu setempat, menyebut harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.200 per kilogram kini melonjak menjadi Rp10.500 hingga Rp10.700 per kilogram. Kondisi ini membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis.

Menurutnya, jika harga kedelai kembali naik hingga menyentuh Rp11.000 per kilogram, para produsen tidak punya banyak pilihan selain menaikkan harga jual.

"Sekarang masih bertahan, tapi kalau naik lagi kemungkinan harga jual ikut naik," ujarnya, Rabu (8/6/2026).

Hal serupa dirasakan Hariyadi, pemilik usaha tahu lainnya. Ia memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga loyalitas pembeli, meski harus menanggung beban biaya produksi yang lebih tinggi.

Sebagai langkah bertahan, sejumlah produsen mulai menyiasati dengan mengurangi ukuran tahu tanpa mengubah harga jual. Cara ini dianggap sebagai solusi sementara agar usaha tetap berjalan.

"Harga jual masih tetap, tapi untuk ukuran tahu diperkecil sedikit. Masih dapat untung tapi tidak banyak seperti sebelumnya," kata dia.

Selain tekanan harga, kekhawatiran juga muncul dari sisi pasokan kedelai. Ketergantungan pada kedelai impor membuat para produsen rentan jika terjadi gangguan distribusi.

Para pelaku usaha berharap ada langkah dari pemerintah untuk menstabilkan harga serta menjamin ketersediaan kedelai, agar usaha kecil seperti mereka tetap bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow