Perayaan ke-249 Tahun Kemerdekaan AS, Emil Dardak Titip Pesan di Kondisi Global yang Bergejolak
Di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik global, Emil Dardak menyerukan penguatan kemitraan strategis Indonesia-AS sebagai fondasi dialog dan kolaborasi lintas negara yang berkelanjutan.
SURABAYA, SJP - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan pentingnya menjaga dan mengimplementasikan comprehensive strategic partnership antara Indonesia dan Amerika Serikat sebagai respons atas kondisi global yang penuh ketidakpastian.
Menurutnya, kerja sama lintas negara harus terus dibuka dan diperkokoh di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik dunia yang kini sedang tidak baik-baik saja.
Pernyataan tersebut disampaikan Emil saat menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan ke-249 Amerika Serikat yang digelar oleh Konsulat Jenderal (Konjen) AS di Surabaya.
Hari Kemerdekaan Amerika Serikat sendiri diperingati setiap tanggal 4 Juli, menandai deklarasi kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1776. Di Indonesia, perayaan tersebut umumnya diselenggarakan lebih awal oleh perwakilan diplomatik AS, sebagai ajang memperkuat kerja sama lintas negara.
"Ini bukan momen yang mudah dalam perekonomian global maupun geopolitik global. Di dalam situasi seperti ini, pintu-pintu dialog harus selalu terbuka," ucap Emil saat dikonfirmasi pada Rabu (18/6/2025).
Ia menekankan, peran pemerintah daerah seperti Jawa Timur juga sangat penting dalam mengisi kemitraan strategis tersebut dengan kerja sama konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.
"Posisi kami di pemerintah daerah adalah terus melanjutkan hal-hal yang bisa menjadi kemitraan yang membawa manfaat baik di antara kedua negara," tambahnya.
Pendidikan dan Penelitian Jadi Fokus Jawa Timur
Dalam konteks hubungan bilateral, Emil menyampaikan bahwa pendidikan dan penelitian adalah sektor-sektor yang perlu terus diperkuat bersama mitra internasional, termasuk Amerika Serikat. Ia menilai kedua bidang itu bisa menjadi pengungkit pembangunan daerah sekaligus memperluas peluang kerja.
"Kerja sama dalam konteks pendidikan, penelitian, tentunya ini adalah hal-hal yang ingin kita terus dorong bersama-sama," kata Emil.
Ia juga meyakini bahwa kolaborasi dalam bidang ilmu pengetahuan dapat menjadi instrumen perdamaian global.
"Kita meyakini, ada semangat yang sama bahwa dunia ini tentu akan bisa mencapai kedamaian yang diharapkan dengan tentunya ikhtiar dari seluruh pihak yang ada di berbagai belahan dunia," ujarnya.
Kesamaan Nilai dalam Semboyan Kedua Negara
Dalam pidatonya, Emil turut menyoroti adanya kesamaan nilai antara semboyan Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” dan semboyan Amerika “E Pluribus Unum” yang berarti Out of many, one.
"Bhinneka Tunggal Ika dan E Pluribus Unum, out of many one, artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Sangat-sangat mirip, artinya bahwa yang menyatukan itu adalah semangatnya, semangat demokrasi, semangat kemanusiaan," jelas Emil.
Namun ia menambahkan bahwa tantangan demokrasi kini bukan hanya terletak pada keberagaman, tetapi juga perbedaan pandangan yang muncul dalam masyarakat.
Dalam hal tersebut, Indonesia tetap menjunjung tinggi nilai musyawarah untuk mufakat yang menjadi kearifan lokal dalam sistem demokrasi.
"Indonesia meskipun negara demokrasi, masih punya musyawarah untuk mufakat, supaya mengedepankan yang bukan majoritarianism, tetapi sebenarnya kemufakatan yang bisa dibangun," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

