Pemasaran Terpusat, Petani Padi Desa Pendem Tak Pernah Sentuh Bulog
Selain minimnya informasi, faktor permodalan juga menjadi kendala bagi petani. Banyak dari mereka yang terikat pada sistem pinjaman modal dari tengkulak, yang membuat hasil panen harus dijual kembali kepada pihak yang memberikan pinjaman.
KOTA BATU, SJP – Petani padi di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, hingga kini masih menjual hasil panen mereka langsung ke tengkulak.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Pendem, Suroso, mengungkapkan bahwa hasil panen gabah kering panen (GKP) dihargai sekitar Rp 6.000 per kilogram di tangan tengkulak.
Diwawancarai pada Rabu (5/2/2025), ia menjelaskan bahwa belum adanya sosialisasi mengenai mekanisme kerja sama dengan Bulog, menjadi alasan utama petani belum menjual hasil panennya ke badan pangan tersebut.
"Petani di sini masih bingung bagaimana kerja sama dengan Bulog, karena belum ada penjelasan resmi. Jadi, lebih mudah tetap menjual ke tengkulak," ujarnya.
Selain minimnya informasi, faktor permodalan juga menjadi kendala bagi petani. Banyak dari mereka yang terikat pada sistem pinjaman modal dari tengkulak, yang membuat hasil panen harus dijual kembali kepada pihak yang memberikan pinjaman.
"Kalau dengan Bulog, kami belum tahu apakah ada skema yang bisa mendukung kebutuhan modal petani," tambah Suroso.
Di sisi lain, produksi padi di Desa Pendem masih cukup menjanjikan meski luas lahan untuk tanaman pangan mulai berkurang karena beralih fungsi menjadi lahan tanaman buah-buahan. Pada panen raya terakhir akhir tahun lalu, hasil panen mencapai sekitar 8,6 ton per hektare.
Harga Gabah Kering Panen (GKP) sendiri cenderung stabil di angka Rp 6.000 per kilogram. Meski ada sedikit penurunan menjadi sekitar Rp 5.500 per kilogram saat musim hujan, Suroso menilai fluktuasi tersebut masih dalam batas wajar.
Dengan potensi hasil panen yang baik dan kebutuhan akan sistem pemasaran yang lebih terstruktur, Suroso berharap adanya sosialisasi dari pihak Bulog agar petani memiliki alternatif pemasaran yang lebih menguntungkan dan mendukung keberlanjutan produksi pangan di Desa Pendem. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

