Patung Macan Putih Desa Balongjeruk Kediri Jadi Viral, Ini Penjelasan Kepala Desa
Patung macan putih itu dibuat sebagai simbol desa yang terinspirasi dari legenda Desa Balongjeruk. Anggaran patung ini menggunakan dana pribadi kepala desa sebesar Rp3.500.000.
KEDIRI, SJP – Sebuah patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak viral di media sosial. Patung yang berdiri di area desa itu ramai diperbincangkan warganet karena bentuknya dinilai unik, bahkan dianggap “lucu” dan jauh dari gambaran macan putih yang gagah. Bahkan, banyak juga yang menyebut patung macan itu menyerupai badak.
Foto dan video patung tersebut beredar luas di berbagai platform media sosial. Tak sedikit warganet yang melontarkan komentar jenaka, meme, hingga candaan visual, sehingga ikon desa itu menjadi bahan perbincangan publik dalam beberapa hari terakhir.
Menanggapi viralnya patung macan putih tersebut, Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, akhirnya angkat bicara. Ia mengaku tidak menyangka patung yang awalnya dibuat sebagai ikon desa justru menarik perhatian luas warganet.
“Saya mohon maaf jika patung ini menimbulkan kegaduhan di dunia maya. Saya tidak pernah menyangka akan viral seperti ini,” ujar Safi’i.
Menurut dia, patung macan putih itu dibuat sebagai simbol desa yang terinspirasi dari cerita dan legenda yang berkembang di masyarakat setempat. Konon, Desa Balongjeruk memiliki "penjaga" atau danyang berupa macan putih.
"Dalam Musyawarah Desa (Musdes), masyarakat sepakat ingin membuat ikon sesuai legenda tersebut. Kami ingin Desa Balongjeruk punya identitas yang kuat," ujar Safi'i.
Anggaran patung ini menggunakan dana pribadi kepala desa sebesar Rp3.500.000.Rinciannya, Rp2 juta untuk jasa pemahat dan Rp1,5 juta untuk material bahan.
Namun, ia juga mengakui bahwa hasil akhir patung memang belum sesuai harapan. “Saya akui hasilnya kurang sempurna dan tidak sesuai ekspektasi. Kritik dan masukan dari masyarakat saya terima dengan lapang dada,” katanya.
Meski menuai beragam komentar, viralnya patung tersebut justru membawa dampak tak terduga. Safi’i menyebut, sejak ramai diperbincangkan di media sosial, Desa Balongjeruk mulai didatangi warga dari luar desa yang penasaran dan ingin berfoto dengan patung macan putih tersebut.
“Sejak viral, banyak orang datang berkunjung dan berfoto, bahkan sampai malam hari. Saya ambil hikmah dan sisi positifnya saja,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut dari perhatian publik tersebut, pihak desa memutuskan untuk melakukan perbaikan. Saat ini, patung macan putih yang baru telah dipesan kepada pemahat lain dengan kesepakatan yang lebih detail agar hasilnya sesuai dengan desain yang diinginkan. Dengan biaya Rp2.500.000, perjanjiannya, hasil harus 90 persen menyerupai desain yang diinginkan. Jika tidak sesuai ekspektasi, pesanan akan dibatalkan.
“Kami ingin ikon desa ini benar-benar layak dan bisa diterima masyarakat. Ke depan, tentu akan kami benahi agar lebih baik,” pungkas Safi’i. (**)
Editor : Danu
What's Your Reaction?

