Ketika Seni Melawan tanpa Teriakan: Pameran "Doa Kasih Rupa" Menjadi Kritik Sejuk di Awal 2025

Seni tidak hanya sebatas ekspresi visual, tetapi juga doa yang dipanjatkan dalam rupa.

02 Feb 2025 - 20:15
Ketika Seni Melawan tanpa Teriakan: Pameran "Doa Kasih Rupa" Menjadi Kritik Sejuk di Awal 2025
Ridwan SS dan Cak Monyong sedang menyelami kritik sosial yang dihadirkan secara

SURABAYA, SJP - Di tengah riuh rendah awal tahun 2025, seni rupa di Kota Pahlawan kembali berbicara, namun dengan nada yang berbeda. Pameran bertajuk "Do'a Kasih Rupa", yang digelar di Galeri Seni Prabangkara, Surabaya, 1-6 Februari 2025, menghadirkan kritik sosial yang terselip dalam sapuan warna yang sejuk.

Pameran tersebut diselenggarakan oleh Ridwan SS, Wakil Ketua Komunitas Ilustrasi Idiom, yang kini sedang gencar dalam ragam gerakan lewat karya mereka. Pada pameran kali ini, Ridwan membawa gagasan bahwa seni tidak hanya sebatas ekspresi visual, tetapi juga doa yang dipanjatkan dalam rupa.

Menghadirkan puluhan karya dari total 18 perupa lokal, Ridwan ingin menekankan bahwa doa tidak selalu harus bersifat verbal, namun juga dapat mengalir melalui kanvas, garis, dan warna, membentuk makna yang lebih dalam dari sekadar keindahan visual, melainkan menjadi refleksi dari kondisi sosial yang pelaku seni rasakan.

"Kita sehari-hari berdoa, kan? Tapi di sini, kami mencoba memanjatkan doa dalam bentuk lukisan. Selama gambar itu tidak luntur, selama itu pula doa kami terus mengalun," ucap Ridwan, Ahad (2/2/2025).

Namun, di balik kelembutan tersebut, kritik tetap menjadi esensi utama dalam pameran itu. Ridwan dan para seniman lain memilih pendekatan yang lebih tenang dalam menyampaikan keresahan mereka terhadap situasi sosial, lingkungan hingga politik tanah air yang terjadi belakangan ini.

"Karena ini masih awal tahun ya, jadi kita ingin buka dengan lebih ringan. Namun, meski pembawaannya lebih "adem" (Dingin dalam bahasa Jawa), pameran ini tetap mengandung kritik yang tajam, hanya saja kali ini lebih sopan," jelasnya.

"Sesuai dengan tajuk yang diangkat, kami mengemas keresahan tersebut dalam sebuah doa dan harapan akan masa depan yang lebih baik," sambung Ridwan.

Salah satu bentuk kritik yang muncul dalam pameran ini tertuang dalam karya dari Ridwan sendiri yang gambarkan "Lembah Baliem".

Ridwan mengatakan bahwa lukisan tersebut merupakan wujud keresahan dirinya atas isu lingkungan yang kembali mencuat sejak akhir 2024, seperti eksploitasi sumber daya alam dan kontroversi pagar laut di pesisir Tangerang.

"Seperti yang kita tahu, isu pagar laut, eksploitasi sumber daya, dan deforestasi makin menjadi. Maka saya memilih semesta dan lingkungan sebagai subjek doa saya," terang Ridwan.

"Lukisan saya kali ini cukup simpel, hanya menunjukkan sebuah alam yang indah, menggambarkan harapan saya atau mungkin seluruh manusia yang mendambakan kondisi seperti itu," imbuhnya.

Selain pameran lukisan, acara yang berlangsung selama 6 hari itu juga menghadirkan kegiatan lain seperti, melukis On The Spot (OTS) dan sarasehan sebagai ruang diskusi bagi para perupa untuk menggali lebih dalam makna "Doa Kasih Rupa".

Pemberontakan yang Halus, Kritik yang Terselubung

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), Taufik Hidayat atau yang akrab disapa Cak Monyong, melihat pameran tersebut sebagai bentuk pemberontakan yang terselubung. Baginya, seni selalu memiliki cara untuk mengkritik, bahkan tanpa harus berteriak.

"Kalau saya lihat lukisannya, ini semuanya sebenarnya berontak. Cuma caranya halus, tidak frontal. Tapi tetap tajam," beber Seniman yang membuka pameran tersebut.

Lebih jauh, Cak Monyong menyoroti bagaimana seni sering kali menjadi refleksi dari kondisi sosial yang terjadi di sekitar kita. Ia percaya bahwa seniman adalah kelompok yang tidak bisa dipisahkan dari perlawanan terhadap sistem yang menekan.

"Seniman selalu siap di garda depan untuk memberontak atas sistem, karena seniman tidak mau bodoh. Karena itulah, mereka sering ditekan, dijauhkan, bahkan 'dibully' secara ekonomi," tegas Cak Monyong.

Selain itu, ia juga mengkritik bagaimana dunia seni rupa sering kali tidak murni sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai alat permainan ekonomi bagi mereka yang berkepentingan.

"Di setiap sektor pasti ada mafioso, termasuk di seni rupa. Siapa yang bermain di wilayah ini, dia kaya. Bukan rahasia lagi sebenarnya bahwa banyak pencucian uang yang dilakukan melalui dunia seni, entah itu dari lukisan maupun barang antik," ucapnya.

Tak berhenti disitu, bahkan Cak Monyong juga menyempatkan untuk menyinggung bagaimana media sering kali membungkam kritik, menggarisbawahi bahwa bahkan pilar yang sering dianggap sebagai watchdog atau anjing penjaga, juga tudak luput dari mafioso.

"Banyak wartawan lapangan menulis, tapi kalau redaksi sudah disogok iklan, tulisan mereka yang pedas-pedas juga tidak akan naik, atau kalau direktur medianya sudah punya kepentingan, kritik sekeras apa pun tetap akan tenggelam," sindirnya.

Baginya, kondisi itu ikut andil dalam mempersempit ruang bagi seniman dan intelektual yang ingin menyuarakan kegelisahan mereka. Namun, justru dalam keterbatasan inilah seni menemukan jalannya sendiri, melebur dalam kanvas, menyelinap dalam warna, dan tetap berbicara meski dalam diam.

Seni, Kritik, dan Harapan

Doa Kasih Rupa menunjukkan bahwa kritik tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang meledak-ledak. Terkadang, justru dalam kesejukan warna dan bentuk, pesan bisa lebih menyelinap ke dalam kesadaran.

Di tengah berbagai isu yang melanda negeri, mulai dari lingkungan, pendidikan, hingga politik, seni rupa hadir dengan caranya sendiri, yakni merangkul keresahan, mengubahnya menjadi doa, dan membisikkan harapan untuk masa depan yang lebih baik. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow