Lestarikan Tradisi Turun-Temurun, Warga Sambikerep Surabaya Kembali Gelar Sedekah Bumi

Deretan ancak jumbo berhias hasil bumi memenuhi halaman Balai RW Sambikerep, menjadi simbol syukur dan bukti bahwa tradisi leluhur masih hidup di tengah modernitas Surabaya.

02 Nov 2025 - 22:06
Lestarikan Tradisi Turun-Temurun, Warga Sambikerep Surabaya Kembali Gelar Sedekah Bumi
Salah satu ancak jumbo buatan warga Sambikerep tampil megah dengan hiasan buah, sayur, dan hasil bumi, menjadi lambang syukur serta kebersamaan warga dalam tradisi Sedekah Bumi (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP — Suasana di Balai RW 04 Sambikerep, Surabaya, Minggu (2/11/2025) pagi terasa begitu semarak. Deretan ancak berukuran besar berdiri megah di halaman, dihiasi aneka hasil bumi, buah-buahan, sayur-mayur, hingga makanan tradisional.

Setiap tahun, warga dari dua belas RT di daerah tersebut selalu sibuk menyiapkan hasil karya ancak mereka untuk acara tahunan sedekah bumi sebagai simbol rasa syukur kepada tuhan atas rezeki dan hasil bumi yang mereka peroleh.

Ancak yang dirangkai oleh setiap warga dari masing-masing RT itu memiliki wujud yang bervariasi. Untuk tahun 2025 ini, ancak didominasi oleh wujud yang menyerupai hewan seperti kura-kura, burung, rusa, hingga naga, namun ada pula yang menyerupai figur manusia.

Berlokasi di Balai RW lama, lokasi perayaan tahun ini tampak penuh sesak oleh warga yang ingin menyaksikan dan ikut mendapatkan hasil bumi. Setiap ancak datang bergiliran memasuki halaman utama, diiringi tawa, musik, dan penampilan hiburan dari masing-masing RT.

Dari Tumpeng Kecil ke Ancak Jumbo

Tradisi Sedekah Bumi di Sambikerep bukan hal baru. Ketua RW 04 Sambikerep, Suwito, menuturkan bahwa perayaan tersebut telah berlangsung sejak masa para sesepuh. Dulu bentuknya masih sederhana, namun kini berkembang menjadi perayaan besar yang melibatkan seluruh RT.

"Dulu itu hanya seperti tumpeng biasa, lalu berkembang yang mana setiap warga membuat ancak kecil sendiri. Tapi seiring waktu, pengurus RT-RW sepakat membuat ancak jumbo tiap RT supaya warga bisa guyub dan gotong royong," ucap Suwito seusai acara, Minggu (2/11/2025).

Perubahan bentuk dari ancak kecil menjadi ancak jumbo mencerminkan pergeseran nilai sosial, dari kegiatan individual menjadi gotong royong kolektif. Kini, setiap RT di RW 04 berpartisipasi aktif, mengeluarkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mewujudkan ancak terbaik dari lingkungan mereka masing-masing.

Meski setiap RT bersemangat untuk membuat ancak dengan bentuk terbaik, Suwito menegaskan bahwa semangat dalam perayaan itu bukanlah kompetisi. Tidak ada penilaian siapa yang paling indah atau paling besar, sebab maknanya justru terletak pada kebersamaan.

"Yang penting warga Sambikerep ini bisa guyub, rukun, gotong royongan. Tidak ada persaingan antara RT, semua sama rata," jelasnya.

Dana pembuatan ancak berasal dari iuran warga maupun bantuan lingkungan. Meski biayanya cukup besar, warga tidak merasa terbebani. Semua RT berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing. Nilai gotong royong menjadi fondasi utama yang membuat tradisi ini terus bertahan.

Berputarnya Tradisi di Dua Balai RW

Seperti yang diketahui sebelumnya, tahun ini perayaan dipusatkan di Balai RW lama yang berada di wilayah RT 9 Sambikerep. Namun, tradisi Sedekah Bumi di RW 04 dilaksanakan secara bergantian lokasi setiap tahun dengan Balai RW baru yang berada di kawasan RT 1 dan RT 2.

"Jadi kita ini punya dua balai RW, satu balai baru dan satu balai lama. Untuk tahun ini diadakan di Balai RW lama, tahun depan Insyaallah di balai baru. Jadi setiap tahun bergantian biar semua wilayah RW ikut merasakan," terang Suwito

Sistem rotasi lokasi itu menjadi bentuk pemerataan dan memastikan seluruh wilayah RW tetap terlibat aktif dalam menjaga tradisi.

Penentuan tanggal perayaan Sedekah Bumi dilakukan lewat rapat besar seluruh RT. Biasanya berlangsung satu atau dua bulan setelah Hari Raya Idul Fitri. Namun, tahun ini jadwalnya bergeser ke bulan November karena padatnya jadwal grup ludruk yang biasa menjadi hiburan warga.

"Biasanya bulan sembilan atau sepuluh, tapi karena ludruk yang biasa kita tanggap jadwalnya penuh, akhirnya diundur bulan sebelas," ucap Suwito.

Keputusan bersama itu menunjukkan bagaimana warga Sambikerep tetap menjunjung tinggi musyawarah dan kesepakatan kolektif dalam menjaga kelangsungan tradisi.

Di tengah modernisasi Surabaya sebagai kota industri, Sedekah Bumi RW 04 Sambikerep menjadi oasis budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi ini bukan hanya ajang syukur atas hasil bumi, tetapi juga simbol identitas, persatuan, dan harmoni sosial bagi masyarakatnya.

Suwito berharap, semangat yang terbangun dari kegiatan Sedekah bumi dapat terus diwariskan kepada anak cucu. "Tradisi ini harus dijaga supaya warga tetap ayem, tentrem, dan sejahtera," pungkasnya.

Selain ancak jumbo, acara sedekah bumi masih berlanjut hingga Senin (3/11/2025) dini hari dengan dimeriahkan oleh kegiatan seni dan tradisi lokal seperti Tayub (tarian tradisional Jawa Timur), Kendangan, Olahraga OKOL, hingga Ludruk Karisma Baru yang merupakan grup ludruk asli Surabaya.

Dengan ancak jumbo yang berdiri megah dan tawa warga yang memenuhi halaman balai RW, Sedekah Bumi tahun ini menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur masih berdenyut kuat di tengah kehidupan masyarakat modern Sambikerep. (*)

Editor: Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow