Pasar Keramat, Wisata Kuliner Tradisional di Tengah Hutan Bambu Mojokerto
Pasar Keramat di Desa Warugunung, Mojokerto, dulunya tempat sampah, kini menjadi destinasi kuliner tradisional di tengah hutan bambu. Buka setiap Minggu Wage dan Kliwon, pengunjung harus menukar uang dengan koin gobog. Tersedia 120-an menu khas dan bebas plastik.
MOJOKERTO, SJP - Di Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, hadir sebuah tempat wisata kuliner bernuansa alam yang kini ramai dikunjungi wisatawan. Tempat ini dikenal dengan nama Pasar Keramat dan menjadi daya tarik baru bagi penikmat kuliner tradisional.
Uniknya, kawasan ini dulunya adalah lokasi pembuangan sampah. Namun, berkat inisiatif warga Dusun Wonokerto dan dukungan dari berbagai pihak, lokasi tersebut berhasil disulap menjadi pasar wisata yang mengusung konsep jadul (jaman dulu) yang berpadu dengan kekayaan kuliner nusantara.
Pasar Keramat terletak di tengah rimbunnya hutan bambu, menghadirkan suasana sejuk dan alami. Pasar ini hanya beroperasi setiap Minggu Wage dan Minggu Kliwon, mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.
Beragam makanan khas tempo dulu bisa dinikmati di sini. Namun sebelum membeli, pengunjung diwajibkan menukar uang rupiah mereka dengan koin khusus bernama gobog. Satu koin bernilai Rp2.000.
Aneka jajanan seperti getuk, serabi, kue lapis, kue putu, kerupuk puli, arbanat, dan gulali bisa ditemukan di tiap sudut pasar. Tidak hanya camilan, makanan berat seperti nasi urap-urap, nasi pecel, dan sego wader pun tersedia. Semua makanan disajikan dengan tampilan tradisional, seperti menggunakan daun pisang atau wadah anyaman bambu.
Untuk menambah suasana meriah, panitia juga menyiapkan hiburan campur sari bagi para pengunjung.
Sepasang suami istri asal Surabaya, Nayoko Hadi dan Indah, mengaku sengaja datang pagi-pagi dari Kota Pahlawan demi mengunjungi Pasar Keramat.
"Pokok semua dibeli rata, tadi beli getuk, kerupuk sambal, rengginang, urap-urap. Belinya pakai koin, satu koinnya dua ribu, adanya pasar kayak ini ya senang banyak jajanan tradisional," kata Nayoko dan Indah.
Kepala Pasar Keramat, Kabul Raharjo Utomo, menyebut bahwa area pasar seluas 1,7 hektare ini dulunya merupakan tempat pembuangan sampah.
"Dahulu pasar ini kami persembahkan untuk ibu rumah tangga agar biasa untuk menunjang ekonomi keluarga," ungkapnya.
Lebih lanjut, Kabul menuturkan bahwa pengunjung pasar tidak hanya berasal dari Mojokerto, namun juga dari berbagai daerah lain seperti Surabaya dan Sidoarjo. Bahkan, wisatawan asing pun turut hadir.
"Luar negeri ada, dari New York, Rusia, Korea Selatan ada ke sini," terangnya.
Ia juga menyampaikan bahwa ada sekitar 120 menu makanan dan minuman tradisional yang ditawarkan. Selain itu, pengelola memberlakukan kebijakan bebas plastik selama pasar berlangsung.
"Harapan ke depannya, pasar ini bisa menginspirasi sehingga budaya bisa lestari. Pengunjung lebih tertib membuang sampah karena ada pengunjung yang bawa plastik, kita nonplastik," pungkasnya. (**)
Editor: Rizqi ArdianĀ
Sumber: Beritasatu.com
What's Your Reaction?

