Operasional SPPG di Mojokerto Dihentikan Usai Ratusan Siswa Keracunan
Keputusan ini diambil menyusul insiden dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa usai mengonsumsi menu soto ayam dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
MOJOKERTO, SJP — Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto resmi dihentikan sementara mulai Senin (12/1/2026).
Keputusan ini diambil menyusul insiden dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa usai mengonsumsi menu soto ayam dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah penutupan itu disebut merupakan bagian dari prosedur evaluasi dan investigasi menyeluruh yang melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes), Kodim 0815, serta pihak kepolisian.
Kepala Korwil Badan Gizi Nasional (BGN) Mojokerto, Rosidian Prasetyo, mengatakan bahwa penghentian sementara ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi tim investigasi dalam mencari penyebab pasti insiden tersebut.
"Sebagai tindak lanjut dan proses evaluasi serta investigasi, mulai Senin (operasional) ditutup," ujar Rosidian, Ahad (11/1/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun, SPPG tersebut melayani sedikitnya 2.679 penerima manfaat dari 20 sekolah setiap harinya. Dalam insiden ini, dilaporkan terdapat tujuh sekolah yang terdampak.
Rosidian menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan awal dengan meminta keterangan dari kepala dapur dan ahli gizi di lokasi.
Meski pemeriksaan awal menunjukkan bahwa pelaksanaan program telah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan petunjuk teknis dari BGN, pihaknya tidak ingin berspekulasi.
"Kami akan mendalami lebih lanjut berdasarkan hasil laboratorium dari Dinkes dan temuan kepolisian. Kami belum bisa menyimpulkan apakah penyebabnya murni dari makanan MBG atau terdapat faktor eksternal lainnya," tambahnya.
Hal ini didasari adanya jeda waktu yang cukup lama, di mana makanan dikonsumsi pada Jumat siang, namun gejala keracunan baru muncul pada Sabtu pagi.
Terkait keberlanjutan distribusi Makan Bergizi Gratis bagi ribuan penerima manfaat lainnya, pihak Korwil BGN Mojokerto tengah berkoordinasi dengan pimpinan pusat.
Terdapat kemungkinan pengalihan penyediaan makanan ke SPPG lain agar hak gizi para siswa tetap terpenuhi selama proses investigasi berlangsung.
Senada dengan itu, Dandim 0815/Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, menyatakan akan melakukan kaji ulang secara komprehensif terhadap seluruh aspek operasional di SPPG tersebut.
"Bukan hanya SPPG ini, seluruh elemen yang berkaitan dengan peristiwa ini akan dievaluasi secara mendalam. Proses investigasi gabungan akan dibantu oleh Dinkes, BGN, dan kepolisian guna memastikan keamanan konsumsi bagi para siswa di masa mendatang," tutup Letkol Abi.
Diberitakan sebelumnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto berujung petaka. Sekitar 150 santri dan pelajar dari berbagai sekolah di bawah naungan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah, Kecamatan Kutorejo, diduga mengalami keracunan massal usai menyantap menu soto ayam pada Jumat (9/1/2026).
Hingga Sabtu (10/1/2026), puluhan korban masih menjalani perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan akibat gejala klinis yang memburuk.
Peristiwa bermula saat para santri mengonsumsi paket makan siang yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan ponpes. Menu yang disajikan adalah soto ayam dengan tampilan yang dinilai tidak lazim.
"Daging ayamnya tidak disuwir seperti soto pada umumnya, melainkan dicacah dengan bumbu kecap pekat mirip toping mi ayam," ungkap salah seorang santriwati saat ditemui di Puskesmas Gondang.
Reaksi tubuh mulai dirasakan para santri secara bertahap sejak Jumat malam. Gejala berupa mual, muntah, demam, pusing, hingga diare akut membuat suasana di pesantren mencekam.
Puncaknya, pada Sabtu pagi, evakuasi besar-besaran dilakukan karena jumlah korban terus bertambah.
Kepala UPT Puskesmas Gondang, dr. Rohmatun Naja, mengonfirmasi lonjakan pasien yang masuk sejak pukul 09.30 WIB.
"Benar, ada dugaan keracunan massal. Hingga saat ini, kami fokus pada stabilisasi kondisi pasien yang mengalami dehidrasi akibat muntah dan diare," jelasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, sebaran pasien meliputi Puskesmas Gondang 17 santri dan 1 ustazah. Fasilitas kesehatan lain seperti Puskesmas Pacet, Bangsal, Kutorejo, RSUD Prof. Dr. Soekandar Mojosari, dan RS Sumberglagah dan penanganan mandiri sekitar 100 santri dengan gejala ringan masih dalam pantauan tim medis di dalam area pondok pesantren.
Korban tercatat berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMP/MTs hingga SMA/MA di lingkungan Ponpes Al-Hidayah, Maahad Annur, hingga siswa dari SMPN 2 Kutorejo yang turut menerima distribusi makanan tersebut.
Menanggapi insiden serius ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. Fokus utama investigasi adalah prosedur pengolahan makanan di SPPG yang diduga dikelola oleh pihak pesantren.
Sampel soto ayam telah diambil untuk diuji di laboratorium kesehatan guna mengidentifikasi keberadaan bakteri pathogenic atau zat berbahaya lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, Dinas Kesehatan belum memberikan keterangan resmi mengenai hasil uji laboratorium, sementara pengawasan medis ketat terus diberlakukan di seluruh titik perawatan. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

