Minim Lapangan Kerja, Warga Batu Ramai-Ramai Cari Nafkah ke Luar Negeri
Meningkatnya jumlah warga Batu yang bekerja ke luar negeri menunjukkan bahwa sektor ketenagakerjaan daerah masih menghadapi tantangan serius. Selama lapangan kerja lokal belum mampu menyerap tenaga produktif secara optimal, bekerja di luar negeri akan tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga
KOTA BATU, SJP - Terbatasnya peluang kerja formal di Kota Batu mulai mendorong semakin banyak warga memilih bekerja di luar negeri. Dalam dua tahun terakhir, jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kota Batu terus meningkat, terutama dari kalangan perempuan dengan latar pendidikan dasar hingga menengah.
Kepala Disnaker Kota Batu, MD Forkan pada Jumat (8/5/2026) bahwa berdasadkM dadi data yang ada telah mencatat, jumlah PMI pada 2024 sebanyak 44 orang, lalu naik menjadi 53 orang pada 2025. Hingga pertengahan Maret 2026, tercatat sudah ada 13 warga yang kembali berangkat bekerja ke luar negeri.
"Tren tersebut erat kaitannya dengan masih terbatasnya serapan tenaga kerja di tingkat lokal. Banyak lulusan sekolah yang belum mampu masuk sektor formal di dalam daerah sehingga memilih mencari penghasilan di negara lain," ujarnya.
Menurutnya, faktor ekonomi menjadi alasan paling dominan. Upah kerja di luar negeri dianggap jauh lebih menjanjikan dibanding peluang kerja yang tersedia di daerah, khususnya bagi masyarakat dengan keterampilan terbatas.
Fenomena ini terlihat dari dominasi pekerja perempuan yang mencapai hampir seluruh jumlah PMI asal Kota Batu. Pada 2025, dari total 53 orang yang berangkat, sebanyak 52 di antaranya merupakan perempuan. Sebagian besar bekerja di sektor domestik dan perawatan lansia.
"Negara tujuan utama masih didominasi kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Taiwan menjadi tujuan paling banyak diminati dengan 23 pekerja, disusul Hong Kong sebanyak 19 orang. Selebihnya tersebar di Malaysia, Singapura, hingga sebagian kecil di Eropa dan Timur Tengah," tambahnya.
Dari sisi pendidikan, mayoritas PMI berasal dari lulusan SD dan SMP. Data Disnaker menunjukkan 17 orang merupakan lulusan SD dan 16 orang lulusan SMP. Jumlah pekerja dengan pendidikan tinggi masih sangat minim.
Meski demikian, keberangkatan PMI dinilai membawa dampak ekonomi yang cukup besar bagi keluarga di daerah asal. Banyak keluarga mengalami peningkatan taraf hidup berkat penghasilan dari luar negeri, mulai dari perbaikan rumah, biaya pendidikan anak, hingga pembukaan usaha kecil. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

